- Serangan AS dan Israel pada 28 Februari menghantam tiga fasilitas nuklir utama Iran di Isfahan, Natanz, dan Fordo.
- IAEA mengonfirmasi kerusakan serius namun tidak total, membuka kemungkinan dimulainya kembali pengayaan uranium dalam beberapa bulan.
- Kegagalan diplomasi memicu eskalasi, ditandai Iran memperkuat kompleks bawah tanah yang belum pernah diserang.
SuaraJawaTengah.id - Serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel ke fasilitas nuklir Iran telah menimbulkan satu pertanyaan krusial: bagaimana nasib program nuklir Teheran kini?
Setelah fasilitas utamanya "diratakan", ketidakpastian menyelimuti kemampuan dan niat Iran yang sebenarnya.
Operasi tempur yang dimulai Sabtu (28/02) waktu setempat itu menghantam tiga situs nuklir utama: kompleks penelitian di Isfahan, serta fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Fordo. Presiden AS, Donald Trump, mengklaim fasilitas tersebut telah "diratakan."
Namun, gambaran situasinya tidak sepenuhnya jelas. beberapa hari setelah serangan, Direktur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, dikutip dari BBC menyatakan serangan tersebut memang menyebabkan kerusakan serius, kendatipun "tidak total."
Baca Juga:Fakta-fakta Mengejutkan Reza Pahlavi, Sosok yang Ingin Gulingkan Rezim Iran
Pernyataan ini membuka kemungkinan bahwa beberapa aktivitas pengayaan nuklir dapat dimulai kembali dalam beberapa bulan.
Kini, ketidakpastian menjadi masalah terbesar. Grossi mengakui pada Januari lalu bahwa IAEA sudah tujuh bulan tidak dapat memeriksa persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran di tiga situs utama yang dibom.

Padahal, sebelum serangan pada Juni 2025 lalu, IAEA memperkirakan Iran memiliki 440kg uranium yang diperkaya hingga 60%, level yang sangat dekat dengan 90% yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.
Jumlah itu disebut cukup untuk memproduksi 10 bom nuklir.
Pihak Iran sendiri memberikan sinyal yang beragam. Pada November 2025, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan kepada The Economist bahwa pengayaan uranium "sekarang sudah dihentikan."
Baca Juga:Benarkah Perang Dunia Ketiga Iran-Israel Awal Kiamat? Ini Kata Buya Yahya
Namun, di bulan berikutnya ia menegaskan kepada Fox News: "Ya, mereka menghancurkan fasilitas, mesin-mesin... tetapi teknologi tidak dapat dibom, dan tekad juga tidak dapat dibom."
Lantas, bagaimana kita sampai di titik ini?
Serangan ini merupakan puncak dari kegagalan diplomasi yang berlarut-larut. Putaran ketiga perundingan tidak langsung antara Iran dan AS di Jenewa pada 26 Februari gagal total.
Ini menyusul lima putaran negosiasi pada Mei 2025 yang juga buntu.
Eskalasi dimulai ketika Israel melancarkan serangan mendadak pada Juni 2025, yang memicu konflik 12 hari dan membuat AS turut menggempur tiga lokasi nuklir utama Iran.
Ancaman dari Presiden Trump pada 19 Februari lalu menjadi kenyataan, di mana ia memperingatkan "hal-hal buruk" akan terjadi jika "kesepakatan yang berarti" tidak tercapai. "Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, itu sangat sederhana," tegasnya.
Di tengah ketidakpastian, citra satelit menunjukkan aktivitas yang mengkhawatirkan. Laporan dari Institute for Science and International Security (ISIS) mengungkapkan bahwa pekerjaan konstruksi telah dilakukan di situs Natanz dan Isfahan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk pemasangan atap baru.
![Foto satelit kediaman Pemimpin Besar Iran Ayatolla Ali Khamenei di Teheran yang hancur dirudal Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026). [Airbus/Soar Atlas]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/28/28500-kediaman-pemimpin-besar-iran-ayatolla-ali-khamenei.jpg)
Lebih dari itu, Iran terdeteksi sedang memperkuat kompleks bawah tanah, Gunung Kolang Gaz La, yang terletak di dekat Natanz dan belum pernah diserang.
Langkah ini mengindikasikan Iran tidak menyerah dan justru berupaya membuat fasilitasnya lebih tahan terhadap serangan di masa depan.
Penilaian Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) pada Mei tahun lalu menyimpulkan Iran dapat memproduksi uranium tingkat senjata yang cukup untuk perangkat nuklir pertama dalam "kemungkinan kurang dari seminggu".
Meski memproduksi bahan fisil tidak sama dengan memiliki bom fungsional, kemajuan Iran di bidang ini tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas regional, khususnya bagi Israel dan AS.