- Pohon randu alas berusia 250 tahun di Lapangan Desa Tuksongo ditebang karena kondisinya lapuk demi keselamatan publik.
- Pohon tersebut menjadi penanda identitas desa dan sering digunakan petani sekitar Borobudur untuk menjemur tembakau.
- Sisa batang pohon akan dijadikan monumen setinggi delapan meter sebagai ikon desa setelah kajian UGM menyatakan mati.
SuaraJawaTengah.id - Dari kejauhan, M Abdul Karim menatap masygul satu per satu cabang randu alas yang dirambah. Lengan-lengan pohon dipangkas, menandakan akhir hidup batang tua.
Di penghujung usianya yang mencapai 250 tahun, randu alas menjelma menjadi memori. Wujud kasarnya ditebang, tapi kenangannya tetap hidup dalam kisah orang-orang yang tumbuh di sekitarnya.
Sejak kecil Abdul Karim hidup akrab bersama bayang-bayang randu alas raksasa yang tegak di sudut Lapangan Desa Tuksongo. Pohon itu menjadi saksi menggeliatnya kehidupan warga desa.
Randu alas bagi Abdul Karim bukan sekadar pohon tua berusia ratusan tahun. Tapi menjadi tetenger: Penanda ruang dan identitas warga Tuksongo.
Baca Juga:8 Tempat Camping di Magelang untuk Wisata Akhir Pekan Syahdu Anti Bising Kota
“Kalau saya pergi ke luar daerah, orang sering tanya rumahnya mana? Biasanya ujung-ujungnya nanya, dekat lapangan pohon randu alas sebelah mana,” kata Karim.
Dia ingat masa kecilnya ripuh bermain bola di lapangan itu—meski katanya sambil tertawa—olahraga bukan bakatnya.
“Kebetulan saya dilahirkan di (rumah) pinggir lapangan. Tapi sama olahraga kok kurang minat ya. Tapi sering ikut-ikutan main bola waktu kecil. Dari SD sampai SMP tetap ikut.”
Lapangan Tembakau
Memori paling lekat terkait randu alas adalah sering dipakainya lapangan untuk menjemur rajangan tembakau. Tidak hanya oleh petani Tuksongo, tapi juga oleh para petani dari daerah sekitar.
Baca Juga:Dokter Spesialis Keliling, Mengantar Harapan Pulih Hingga ke Desa
Tradisi njereng mbako adalah proses mengeringkan daun tembakau rajangan di bawah panas matahari. Rajangan tembakau dijereng di atas rigen (anyaman bambu) dan dijemur sinar matahari.
Jika panas terik, biasanya hanya butuh waktu dua hari untuk mengeringkan tembakau. Proses penjemuran diselingi membalik rajangan agar tembakau kering merata.
Tidak hanya petani asal Desa Tuksongo, pemilik tembakau sekitaran Borobudur—hingga Muntilan juga sering nunut menjemur di Lapangan Randu Alas.
Selain punya lapangan yang luas, daerah Tuksongo umumnya dikenal memiliki cakupan panas matahari yang stabil. Berbeda dari daerah lain yang berada di pegunungan, cuaca sering berubah-ubah.
Abdul Karim masih ingat, para buruh tembakau biasanya ngeyup di bawah pohon randu alas menunggu truk pengangkut datang.
“Waktu saya kecil di sini ada namanya ngabul atau pekerja menurunkan tembakau dari truk. Sebelum truknya datang masyarakat sini menunggunya di bawah pohon randu itu. Itu menjadi kenangan masa kecil saya.”
Jadi selama musim kemarau, lapangan khusus dipakai menjemur rajangan tembakau. “Musim hujan biasanya baru dipakai untuk main sepak bola,” ujar Abdul Karim.
Pilihan Sulit
Cabang besar paling bawah randu alas berhasil dipotong dan diturunkan. Suara gergaji mesin meraung mencacah cabang menjadi bagian-bagian kecil.
Diam-diam hati Abdul Karim ikut terluka. “Tidak ada niatan kami menebang randu alas. Tapi berhubung dilihat kasat mata, sudah tidak layak hidup, mau tidak mau kami harus melangkah demi aspek keselamatan.”
Randu alas Tuksongo berada di kawasan wisata dan dekat dengan permukiman warga. Pohon yang semakin tua dan lapuk dapat membahayakan pengguna jalan maupun wisatawan.
Sebagai Kepala Desa Tuksongo, Abdul Karim memutuskan menebang pohon tua itu. Pohon itu tidak sekadar meranggas seperti yang dibilang banyak orang, tapi sedang sekarat.
“Randu alas memang bisa meranggas. Tapi setahu saya, jika meranggas itu biasanya hanya daunnya. Sekarang sampai kulitnya (mengering dan mengelupas). Otomatis kami memandang pohon itu sudah mati.”
Upaya penyelamatan sempat dilakukan. Dinas Lingkungan Hidup Magelang pernah berusaha mengobati randu alas tapi sia-sia.
Monumen Randu Alas
Kajian Fakultas Kehutanan dan Pertanian Universitas Gadjah Mada menyimpulkan bahwa randu alas Tuksongo tidak lagi bisa diselamatkan. Sekitar 95 persen batang pohonnya telah mati, sehingga dianggap rusak ekstrem.
Kondisi batang menghitam, kering, dan lapuk dengan jejak keberadaan serangga penggerek batang randu sebagai hama utama. Seluruh ranting telah kering, rapuh, dan mudah luruh.
Menolak melupakan randu alas, Adul Karim didukung warganya memutuskan untuk menjadikan sisa batang randu alas menjadi monumen peringatan.
“Opsi kami randu alas ditebang disisakan batang setinggi 8 meter dari bawah. Jadi walaupun pohon sudah ditebang, di sana kami tetap masih punya ikon desa,” kata Abdul Karim.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Magelang, Mulyanto, keputusan menebang randu alas merupakan hasil musyawarah Pemerintah Desa bersama tokoh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Magelang.
“Pemerintah desa memilih memadukan kepentingan publik dengan aspek keselamatan. Tanpa menghilangkan nilai ikon pariwisata.”
Meskipun pohon ditebang, nilai historis dan daya tarik randu alas tetap dijaga. “Bisa menjadi ikon bahwa di Tuksongo pernah berdiri randu alas berusia ratusan tahun,” kata Mulyanto.
Kontributor : Angga Haksoro Ardi