- Nana, running enthusiast di Lamongan, konsisten menjaga pola hidup sehat dengan olahraga dan nutrisi seimbang sejak pensiun atlet 2016.
- Edukasi gizi oleh ibu sangat krusial dalam membentuk kebiasaan makan anak untuk mencegah masalah kesehatan seperti *stunting*.
- Industri makanan merespons tantangan kesadaran sehat melalui reformulasi produk, namun porsi konsumsi tetap kunci kesehatan individu.
SuaraJawaTengah.id - Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern dan gempuran makanan instan, tantangan untuk menjaga pola hidup sehat semakin nyata.
Minggu (8/3/2026) di Lamongan, ketika sebagian kota masih dikepung banjir, Nana, seorang running enthusiast dan mantan atlet balap sepeda, menunjukkan dedikasinya pada kebugaran.
Bersama komunitas Sego Bo-RUN, ia tetap berolahraga, menegaskan bahwa menjaga kesehatan adalah komitmen seumur hidup, bukan hanya bagi atlet.
Kisah Nana ini menjadi cerminan perjuangan banyak individu dan keluarga dalam menghadapi dilema meja makan di era serba cepat.
Baca Juga:Waspada! BMKG Prediksi Hujan Lebat Guyur Jawa Tengah Hari Ini
Nana, yang pensiun sebagai atlet balap sepeda pada tahun 2016, tetap rutin berolahraga, melahap jarak 50-60 km setiap pekan, bahkan *long run* hingga 21 km di akhir pekan. Baginya, asupan nutrisi seimbang adalah kunci.
"Jika tidak diimbangi makanan bernutrisi, ancamannya cedera bisa mengakhiri olahraga," ujar wanita kelahiran Februari 1983 ini.
Rutinitasnya meliputi sarapan sayur, telur rebus, dan buah segar, serta makan berat dua kali sehari terakhir pukul 17.00 WIB.
Pola hidup sehat ini, yang ia dapatkan secara alamiah saat menjadi atlet, kini ia tularkan kepada kedua anaknya.
Namun, menjaga pola hidup sehat tidak hanya berlaku bagi mantan atlet. dr. Andriyanto, Kepala BRIDA Jawa Timur dan mantan Ketua Umum Asosiasi Nutrisionis Indonesia (AsNI), menekankan peran vital orang tua, khususnya ibu, dalam membentuk kebiasaan makan anak.
Baca Juga:Tragis! Kecelakaan Maut di Tol Pejagan Tegal Renggut Empat Nyawa, Diduga Sopir Minibus Mengantuk
"Edukasi gizi itu perlu diberikan kepada ibu-ibu yang memiliki balita dan anak yang masuk tahap pertumbuhan," katanya.
Ibu-ibu adalah garda terdepan dalam menghadapi masalah kesehatan di Indonesia seperti gizi buruk, stunting , dan obesitas, yang seringkali berakar pada pola konsumsi makanan yang kurang sehat.
Para ahli gizi menyoroti daftar menu harian masyarakat yang masih didominasi gorengan, makanan olahan, makanan dengan pemanis buatan, serta makanan instan.
Penggunaan penguat rasa berlebihan juga menjadi perhatian, karena dapat memicu masalah kesehatan pada anak-anak jika dikonsumsi terus-menerus.
Andriyanto mencontohkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah positif, namun ia berharap menu dalam program tersebut benar-benar memperhatikan aspek kesehatan dan dapat diimplementasikan di rumah.
Meskipun demikian, Andriyanto menolak menyalahkan sepenuhnya makanan dan minuman kemasan atau berpemanis sebagai penyebab tunggal gangguan kesehatan.
"Tinggal bagaimana porsi konsumsi dan intensitasnya. Jika terus menerus, pasti memicu masalah kesehatan," ujarnya.
Gangguan kesehatan juga bisa disebabkan oleh aktivitas atau faktor keturunan.
Budayawan Antonio Carlos menambahkan perspektif menarik mengenai pola konsumsi masyarakat Indonesia.
Ia menyoroti betapa mudahnya menemukan gorengan di mana-mana, dari yang ringan hingga berat, sementara makanan sehat sulit ditemukan di tepi jalan.
"Sangat sulit menjumpai makanan sehat di tepi jalan," katanya.
Menurutnya, gorengan sudah ada sejak teknologi minyak goreng diperkenalkan, dan untuk beralih ke makanan sehat membutuhkan perubahan generasi.
Kristiono, seorang trail runner enthusiast asal Surabaya, memberikan contoh bahwa makanan dan minuman yang disorot ini masih dibutuhkan sesekali.
Ia mengaku masih mengonsumsi minuman berkarbonasi, terutama saat membutuhkan kalori ekstra di sela jogging atau saat cuaca panas.
"Itu juga belum tentu sebulan sekali," tegasnya, menunjukkan bahwa konsumsi sesekali dengan porsi terkontrol masih bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat.
Pandemi Covid-19 telah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Makanan dan minuman sehat, ditambah aktivitas fisik, kini menjadi kebutuhan. Ini menjadi tantangan besar bagi industri makanan dan minuman kemasan. Dhedy Adi Nugroho, Deputy Head for Agriculture, Food and Beverage EuroCham Indonesia, menjelaskan bahwa industri menghadapi dua persoalan utama.
Pertama, produsen minuman sedang mereformulasi komposisi produk, seperti mengurangi gula, yang membutuhkan riset panjang dan biaya besar.
"Bisa-bisa pegawai tidak gajian," kelakarnya, namun menegaskan bahwa ini tetap dilakukan untuk menyediakan produk substitusi yang diterima pasar.
Kedua, adalah portion control dan edukasi komposisi produk kepada konsumen. Dhedy optimistis bahwa generasi mendatang akan lebih sadar dan teredukasi dalam menerima produk sehat, meskipun "lidah orang Indonesia masih suka manis untuk minuman dan asin untuk makanan. Ini tradisi."
Tudingan bahwa makanan dan minuman kemasan menjadi penyebab gizi buruk, stunting , obesitas, hingga diabetes, juga menjadi tantangan.
Dhedy menjelaskan bahwa dalam konteks asupan minuman manis, ada tiga aspek: minuman buatan sendiri, ready to drink , dan minuman kemasan berpemanis. Namun, hanya minuman kemasan pabrikan yang komposisi gulanya jelas dan wajib ditulis sesuai arahan BPOM.
Survei Kementerian Kesehatan 2014 bahkan menunjukkan bahwa sumber asupan manis terbesar masih dari gula pasir dan sirup, bukan minuman kemasan.
Pada akhirnya, membangun komunikasi tentang makanan sehat harus dimulai dari rumah, dengan pendekatan tradisi sebagai langkah bijak. Kehadiran makanan dan minuman kemasan tidak sepenuhnya ditolak, namun kesadaran akan porsi dan intensitas konsumsi adalah kunci untuk menjaga kesehatan di tengah gempuran pilihan makanan modern.