- Pasangan Vicky dan Feronika menikah di Rembang pada 29 Maret 2026 dengan mahar berupa dua bibit pohon mangga.
- Pemberian mahar unik tersebut dilakukan sebagai simbol komitmen membangun rumah tangga serta wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan.
- Aksi pernikahan ini mendapatkan apresiasi dari Kementerian Agama karena dianggap sebagai inspirasi positif dalam memaknai mahar secara luas.
4. Filosofi Pohon: Tumbuh, Kuat, dan Bertahan
Lebih dalam lagi, Vicky menjelaskan bahwa setiap bagian dari pohon memiliki makna tersendiri dalam kehidupan pernikahan.
“Saya memilih pohon mangga sebagai mahar, adalah doa yang kutanam dalam-dalam di tanah kehidupan. Agar cinta kita tumbuh seperti akarnya, menguat meski tak selalu terlihat, dan menjulang seperti batangnya, teguh menghadapi musim apa pun,” ujarnya.
Filosofi ini menggambarkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan sesaat, tetapi proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan keteguhan.
Baca Juga:Semen Gresik Apresiasi Tukang Bangunan, Program Tukang Hebat Berhadiah Utama Tiga Unit Motor Matic
5. Harapan Manis dari Buah yang Akan Tumbuh
Tidak hanya berhenti pada simbol, Vicky juga memiliki harapan jangka panjang dari mahar tersebut.
Ia berharap, saat pohon mangga itu tumbuh dan berbuah, manisnya buah menjadi simbol kebahagiaan yang lahir dari kesabaran.
“Kelak saat pohon tersebut berbuah, manisnya menjadi saksi atas kesabaran yang kami rawat bersama,” ungkapnya.
Makna ini menunjukkan bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak instan, melainkan hasil dari proses yang dijaga bersama.
Baca Juga:Semen Gresik Apresiasi atas Kontribusi Karyawan dengan Menggelar TPM Awards 2025
6. Wujud Kepedulian terhadap Lingkungan
Selain memiliki makna personal, mahar pohon mangga juga menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Vicky menilai bahwa pernikahan tidak hanya soal hubungan dua insan, tetapi juga tanggung jawab terhadap bumi.
“Karena mahar ini bukan sekadar pemberian, melainkan kehidupan yang kutitipkan untuk kita jaga, kita rawat,” ujarnya.
Langkah ini menjadi contoh bahwa nilai keberlanjutan bisa dimulai dari hal sederhana, termasuk dalam momen pernikahan.
7. Dapat Apresiasi dari Kementerian Agama