- Banjir besar akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang merendam sembilan desa di Kabupaten Demak sejak Jumat, 3 April 2024.
- Sebanyak 2.839 jiwa terpaksa mengungsi ke 14 lokasi aman setelah permukiman terendam banjir setinggi 100 hingga 140 sentimeter.
- Pemerintah daerah bersama tim gabungan segera menyalurkan bantuan logistik serta melakukan penanganan darurat untuk memulihkan kondisi para pengungsi.
SuaraJawaTengah.id - Banjir besar kembali menerjang Kabupaten Demak, Jawa Tengah, memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak mencatat setidaknya 2.839 jiwa dari sembilan desa di empat kecamatan terdampak langsung oleh luapan dan jebolnya tanggul Sungai Tuntang.
Peristiwa ini terjadi menyusul curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut, mengubah permukiman warga menjadi lautan air.
"Ribuan pengungsi tersebut mengungsi ke sejumlah tempat, mulai dari balai desa, kantor kecamatan, tempat ibadah, sekolah, hingga rumah warga. Total ada 14 lokasi pengungsian," ungkap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Demak, Agus Sukiyono, pada Sabtu (3/4).
Baca Juga:Grobogan Diterjang Banjir Bandang: 14 Desa Terendam, Tanggul Jebol, Ratusan Warga Terjebak!
Kondisi ini menggambarkan betapa seriusnya dampak banjir yang melanda, dengan warga harus meninggalkan rumah dan harta benda mereka demi keselamatan. Lokasi pengungsian yang tersebar menunjukkan skala bencana yang membutuhkan koordinasi dan penanganan ekstra dari berbagai pihak.
Pemerintah setempat, bekerja sama dengan berbagai elemen relawan, tidak tinggal diam. Mereka terus bergerak cepat melakukan pendataan dan penanganan terhadap para pengungsi.
Prioritas utama adalah pemenuhan kebutuhan dasar, mulai dari logistik makanan dan minuman, layanan kesehatan, hingga penyediaan tempat tinggal sementara yang layak. Upaya ini krusial untuk memastikan para pengungsi mendapatkan perlindungan dan bantuan yang memadai di tengah situasi darurat.
Hingga saat ini, kondisi para pengungsi masih dalam pemantauan ketat. Tim gabungan terus berupaya memastikan keselamatan warga terdampak dan melakukan penanganan bencana secara komprehensif.
Fokus tidak hanya pada evakuasi dan penyediaan kebutuhan dasar, tetapi juga pada upaya jangka panjang untuk memulihkan kondisi pasca-banjir.
Baca Juga:Semarang Terendam Banjir: Ratusan Warga Mengungsi, Infrastruktur Drainase Jadi Sorotan
Penyebab utama banjir kali ini adalah jebolnya tanggul Sungai Tuntang di enam lokasi berbeda.
"Hasil pendataan tercatat ada enam lokasi, yakni di Desa Trimulyo ada tiga lokasi dengan panjang 30 meter dan 10 meteran, sedangkan di Desa Sidoharjo ada tiga lokasi dengan panjang 15 meteran," jelas Agus Sukiyono.
Jebolnya tanggul ini, yang terjadi pada Jumat (3/4) pagi, mengakibatkan limpasan air yang masif dan langsung merendam rumah-rumah warga.
Daerah yang terdampak banjir meliputi Desa Trimulyo, Sidoharjo, Turitempel, Tlogorejo, dan Bumiharjo di Kecamatan Guntur; Desa Ploso di Kecamatan Karangtengah; Desa Lempuyang di Kecamatan Wonosalam; serta Desa Sarimulyo dan Solorire di Kecamatan Kebonagung.
Ketinggian genangan air di sembilan desa tersebut bervariasi, bahkan ada yang mencapai 100-140 sentimeter (Cm), membuat aktivitas warga lumpuh total.
Meskipun demikian, ada sedikit kabar baik di tengah musibah ini. "Namun, tren untuk hari ini mulai menurun, baik di Desa Trimulyo maupun desa-desa lainnya," kata Agus Sukiyono.