- Ratna Yuniarti, pengemudi ojek daring di Semarang, menceritakan kesulitan ekonomi dan pengasuhan anak kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.
- Pertemuan berlangsung saat unjuk rasa pengemudi ojek daring di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada 20 Mei 2026.
- Gubernur Ahmad Luthfi berjanji mengawal tuntutan pengemudi terkait regulasi tarif dan mempertimbangkan penyediaan fasilitas penitipan anak bagi pengemudi perempuan.
SuaraJawaTengah.id - Di tengah unjuk rasa driver ojek online (ojol) di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu, 20 Mei 2026, ada kisah yang diam-diam menyentuh perhatian. Seorang ibu datang menggandeng anaknya, lalu berdiri di antara para pengemudi yang memperjuangkan nasib mereka.
Ia adalah Ratna Yuniarti (33), driver ojol asal Kota Semarang yang sudah hampir sembilan tahun bekerja di jalanan. Ratna datang membawa anak ketiganya yang baru berusia 2 tahun 7 bulan.
Ia memberanikan diri menghampiri ketika Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, sedang duduk lesehan di tangga beranda kantor Gubernuran.
Melihat ibu dan anak tersebut, Ahmad Luthfi sontak memanggil seraya memberi tanda lambaian tangan agar mendekat dan duduk di sebelahnya. Dengan gaya santai Ahmad Luthfi menyapa dan mengajak kenalan.
Baca Juga:Jateng Media Summit 2026: Gubernur Luthfi Instruksikan Seluruh Dinas Gandeng Media Bangun Daerah
Di hadapan Gubernur, Ratna menceritakan kesehariannya yang penuh perjuangan: bekerja sembari mengasuh anak.
Sangat alami dan berjalan apa adanya. Obrolan keduanya juga santai tanpa sekat. Bocah kecil yang digandeng terus berada di samping sang ibu ketika obrolan hangat berlangsung di halaman kantor gubernur. Bahkan tanpa canggung, Ahmad Luthfi mendekap bocah itu dan didudukkan di pangkuannya.
“Rumah di Asrama TNI AD Mrican, tapi sekarang ngekos di Lamper. Sudah lama jadi driver ojol, sejak tahun 2017 sampai sekarang. Suami saya jadi TKI di Malaysia, sejak Desember 2025,” ujar Ratna.
Sejak sang suami bekerja di Malaysia, Ratna menjadi tulang punggung keluarga di Semarang. Setiap hari ia mulai bekerja sejak pukul 05.30 hingga sekitar pukul 19.00. Selama itu pula, anak bungsunya selalu ikut bersamanya menyusuri jalanan kota.
Sementara dua anaknya yang lain masih duduk di bangku sekolah dasar, masing-masing kelas 1 dan kelas 3 SD.
Baca Juga:Implementasi Tambang Berkelanjutan, PT Semen Gresik Sabet Penghargaan GMP Award Jawa Tengah 2026
Bagi Ratna, bekerja sambil mengasuh anak bukan pilihan yang nyaman. Namun keadaan memaksanya bertahan. Ia mengaku tidak sanggup membayar pengasuh anak, sementara meninggalkan anak di rumah juga bukan pilihan yang mudah.
“Kalau ngojek online sambil momong anak dari pagi sampai sore. Kalau mau ambil orang buat momong nggak sanggup bayarnya. Was-was juga setiap ajak anak, tapi mau gimana lagi. Kalau nggak kerja nggak bisa makan,” tuturnya lirih.
Karena itu, Ratna menyambut baik wacana penyediaan fasilitas day care bagi driver ojol yang sebelumnya disampaikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, banyak driver perempuan lain yang menghadapi persoalan serupa.
“Setuju saja kalau ada day care, soalnya ada teman ojol lain yang juga kerja sambil momong anak,” katanya.
Namun persoalan para driver ojol, menurut Ratna, tidak berhenti pada urusan pengasuhan anak. Selama hampir satu dekade bekerja, ia merasakan semakin beratnya tekanan ekonomi akibat tarif rendah dan tingginya potongan aplikasi.
Dalam sehari, Ratna bisa menyelesaikan sekitar 10 orderan dengan nilai pendapatan kotor Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu. Setelah dipotong aplikasi dan kebutuhan operasional, uang yang benar-benar dibawa pulang hanya sekitar Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu.