Polusi Kendaraan Renggut Satu Nyawa Setiap 12 Menit di Indonesia, Studi Soroti Dampak Seriusnya

Studi ICCT ungkap polusi kendaraan darat di Indonesia sebabkan 44.700 kematian dini tiap tahun. Transisi ke kendaraan nol emisi krusial selamatkan jutaan nyawa.

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:09 WIB
Polusi Kendaraan Renggut Satu Nyawa Setiap 12 Menit di Indonesia, Studi Soroti Dampak Seriusnya
Ilustrasi Polusi Kendaraan Bermotor (Unsplash)
Baca 10 detik
  • Studi ICCT pada Rabu (5/8/2026) mengungkapkan emisi transportasi darat di Indonesia menyebabkan 44.700 kematian dini setiap tahun.
  • Pencemaran udara dari kendaraan bermotor tersebut juga memicu 19.800 kasus baru asma pada anak setiap tahun.
  • Transisi ambisius menuju kendaraan nol emisi dapat mencegah 800.000 kematian dini di Indonesia hingga tahun 2050.

SuaraJawaTengah.id - Polusi udara dari kendaraan bermotor tak lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Studi terbaru International Council on Clean Transportation (ICCT) mengungkap, emisi transportasi darat di Indonesia menyebabkan sekitar 44.700 kematian dini dan 19.800 kasus baru asma pada anak setiap tahun.

Artinya, rata-rata satu orang meninggal lebih cepat setiap 12 menit, sementara satu anak didiagnosis menderita asma setiap 26 menit akibat paparan polusi dari sektor transportasi.

"Transportasi darat di Indonesia berkontribusi terhadap sekitar 44.700 kematian dini setiap tahun dan sekitar 19.800 kasus baru asma pada anak setiap tahun. Jika disederhanakan, kurang lebih satu kematian setiap 12 menit," kata Senior Researcher ICCT Aditya Mahalana dikutip dari ANTARA pada Rabu (5/8/2026).

Baca Juga:Asal-usul Pajak Opsen yang Bikin Geger di Jawa Tengah, Lengkap dengan Simulasinya

Temuan tersebut berasal dari studi "Health Benefits of Zero-Emission Vehicles Through 2050" yang menganalisis dampak kesehatan polusi transportasi di lebih dari 180 negara dan wilayah, termasuk lebih dari 13.000 kawasan perkotaan di seluruh dunia.

ICCT menilai sektor transportasi darat menjadi salah satu penyumbang utama pencemaran udara. Secara global, emisi kendaraan menyumbang hampir setengah dari batas paparan tahunan partikel halus (PM2.5) yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Yang mengkhawatirkan, beban pencemaran tidak berasal dari seluruh kendaraan secara merata. Kendaraan berat yang hanya sekitar 2 persen dari total armada di Indonesia justru menghasilkan lebih dari separuh emisi nitrogen oksida (NO) dan PM2.5, dua polutan yang berkaitan erat dengan gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular.

Sementara kendaraan ringan mendominasi emisi senyawa organik volatil (VOC) dan karbon monoksida (CO).

Namun, studi tersebut juga membawa kabar optimistis. ICCT memperkirakan transisi menuju kendaraan nol emisi secara masif dapat menyelamatkan ratusan ribu nyawa di Indonesia.

Baca Juga:Jeritan Rakyat Kecil: Pajak Opsen Bikin Kantong Bolong, Beban Ekonomi Semakin Berat

"Dengan elektrifikasi kendaraan yang ambisius, pada 2050 kasus asma pada anak dapat berkurang sekitar 150.000 dan kematian dini sekitar 800.000 di Indonesia, serta lebih dari 8 juta secara global," kata peneliti ICCT, Lingzhi Jin.

Sebaliknya, apabila kebijakan transportasi tidak mengalami perubahan, dampak kesehatan diperkirakan akan terus memburuk. Dalam skenario Baseline 2025, yang mengasumsikan tidak ada langkah tambahan seperti pengetatan standar emisi, peningkatan kualitas bahan bakar, maupun percepatan elektrifikasi kendaraan, jumlah kematian dini di negara-negara berpendapatan menengah dan rendah diproyeksikan terus meningkat.

Direktur Senior ICCT sekaligus salah satu penulis studi, Josh Miller, mengatakan pertumbuhan jumlah penduduk, penuaan populasi, dan meningkatnya jumlah kendaraan akan memperbesar beban kesehatan akibat polusi udara jika kebijakan saat ini dipertahankan.

"Kajian ini menunjukkan elektrifikasi yang ambisius cukup kuat untuk memutus keterkaitan tersebut dan mencegah hampir 9 juta kematian dini antara sekarang hingga 2050," kata Josh Miller.

Selain mempercepat penggunaan kendaraan nol emisi, ICCT menilai manfaat kesehatan juga dapat diperoleh melalui berbagai kebijakan pendukung, seperti pengetatan standar emisi kendaraan, penggunaan bahan bakar yang lebih bersih, program peremajaan armada, retrofit kendaraan, hingga penerapan kawasan rendah emisi.

Dengan temuan tersebut, ICCT menegaskan bahwa transisi menuju kendaraan bebas emisi bukan hanya strategi menekan perubahan iklim, tetapi juga menjadi langkah penting untuk mengurangi beban penyakit dan kematian akibat polusi udara yang setiap hari dihirup masyarakat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini