- Galeri Lokananta menutup pameran arsip lagu anak pada 22 Mei 2026 melalui pertunjukan seni merayakan Hari Anak Nasional.
- Siswa SMP Negeri 1 Karanganyar dan Sedarah Acting Studio menampilkan musik serta musikalisasi puisi dalam acara penutupan tersebut.
- Pengelola Galeri Lokananta menilai penyediaan ruang ekspresi yang aman sangat penting untuk mendukung kreativitas anak masa kini.
SuaraJawaTengah.id - Galeri Lokananta menutup rangkaian pameran Senang Riang Lagu Anak Lokananta dengan pertunjukan musik dan musikalisasi puisi.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan Hari Anak Nasional di Lokananta sekaligus menandai berakhirnya rangkaian program publik pameran yang telah berlangsung sejak 22 Mei 2026.
Pameran Senang Riang Lagu Anak Lokananta menghadirkan pembacaan terhadap arsip rekaman lagu-lagu anak yang pernah diproduksi Lokananta.
Perupa Gutami Hayu P mengembangkan hasil riset terhadap 69 lagu anak dari era 1950-an hingga 1980-an ke dalam berbagai materi pameran, seperti mural, puzzle, dan media blackboard.
Berbagai media tersebut disediakan sebagai ruang interaksi bagi pengunjung untuk meninggalkan catatan, ekspresi, maupun kenangan tentang masa kecil mereka.
Setelah melalui rangkaian program publik yang melibatkan kolaborator dari berbagai disiplin ilmu, Galeri Lokananta menggelar seremoni penutupan dengan menghadirkan kolaborasi siswa-siswi SMP Negeri 1 Karanganyar dan Sedarah Acting Studio.
Dalam sambutannya, Caroline S. Darmawan mengatakan Galeri Lokananta memproyeksikan diri sebagai ruang ekspresi yang nyaman dan aman bagi anak-anak. Galeri tersebut juga terbuka terhadap berbagai kemungkinan eksplorasi kreatif.
Pada sesi pertunjukan musik, empat siswa SMP Negeri 1 Karanganyar, yakni David Avner Winatra, Hasna Hilda Widyandari, Alisa Ayu Ananta, dan Muhammad Rasya Alhaqi, membawakan sejumlah lagu melalui olah kreasi aransemen.
Lagu yang dibawakan antara lain Angin Mamiri, Bengawan Solo, Rasa Sayange, dan Boneka Baru. Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dari penonton yang menikmati setiap komposisi yang dimainkan.
Baca Juga:Jelajahi Keindahan Musik Jazz di Burangrang Bersama BRImo
Memasuki sesi berikutnya, Sedarah Acting Studio menampilkan musikalisasi puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda berjudul Resonansi Indonesia.
Sekitar 16 anak yang semula menjadi penonton kemudian bergabung dengan tim yang telah bersiap di depan panggung. Mereka mengambil posisi masing-masing sambil membawa secarik kertas yang dibaca secara bersama-sama.
Pertunjukan tersebut tidak hanya mengandalkan pembacaan puisi. Para peserta juga menampilkan olah tubuh sebagai bagian dari ekspresi, sehingga pertunjukan berlangsung secara interaktif dan melibatkan penonton.
Ruang Ekspresi Anak Dinilai Semakin Relevan
Pertunjukan penutupan tersebut turut mengangkat kembali pertanyaan mengenai semakin jarangnya keberadaan lagu anak pada era 2000-an. Perubahan pola konsumsi informasi, yang kini banyak berlangsung melalui perangkat digital, dinilai turut mengubah posisi anak dari sekadar penikmat menjadi pihak yang dapat aktif mengekspresikan diri.
Anak-anak kini dapat mengembangkan kreativitas melalui berbagai ruang dan komunitas, seperti Sedarah Acting Studio maupun kegiatan ekstrakurikuler musik di sekolah.