- Pembangunan fasilitas PSEL di Sitimulyo, Bantul, direncanakan mulai akhir 2026 atau awal 2027 dengan investasi Rp2,5-3 triliun.
- Fasilitas tersebut dikelola oleh Pertamina dan Danantara untuk mengolah 1.000 ton sampah per hari menjadi listrik berkapasitas 18 megawatt.
- Pemerintah Kota Yogyakarta memperkirakan butuh anggaran transportasi sekitar Rp40 miliar per tahun untuk mengirim sampah tanpa pemilahan ke PSEL.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo menjelaskan, PSEL dirancang mengolah sedikitnya 1.000 ton sampah per hari dari Kota Yogyakarta, Sleman dan Bantul. Sampah tersebut kemudian diolah menjadi listrik dengan kapasitas sekitar 18 megawatt yang akan dijual kepada PLN.
Kusno memastikan sampah yang dikirim ke PSEL tidak perlu melalui proses pemilahan terlebih dahulu. Sampah campuran dapat langsung menjadi bahan baku PSEL.
"Semua jenis sampah bisa diolah jadi PSEL. Tidak perlu dipilah terlebih dahulu," ungkapnya.
Kebijakan ini berpotensi mengubah pola pengangkutan sampah dari tiga daerah menuju fasilitas PSEL. Kusno menyebut, pemerintah kabupaten/kota cukup mengangkut sampah dari wilayah masing-masing menuju pabrik, tanpa harus melakukan pemilahan antara sampah basah dan sampah kering sebelum dikirim.
Baca Juga:Pemulihan Korban Daycare, Wali Kota Yogyakarta Siapkan Pendampingan dari Psikolog hingga Dokter Anak
Kusno menyebut kapasitas 1.000 ton per hari tersebut merupakan bagian dari timbulan sampah yang selama ini belum terkelola secara maksimal. Di Kota Yogyakarta sendiri, potensi timbulan sampah mencapai hampir 2.000 ton per hari, meski sebagian telah ditangani melalui TPS3R dan skema pengelolaan lainnya.
"Jadi masih ada sekitar 1000 ton sampah kota yang belum ditangani," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi