- Kepala ACG School Jakarta Myles D’Airelle menyatakan pada Senin, 24 Juni 2026, bahwa sekolah wajib membekali siswa kemampuan berpikir kritis serta adaptasi menghadapi otomatisasi.
- World Economic Forum memproyeksikan perubahan struktural pada 22 persen pekerjaan, penciptaan 170 juta pekerjaan baru, serta pergeseran 92 juta pekerjaan hingga 2030.
- ACG School Jakarta menerapkan kurikulum International Baccalaureate dan Cambridge guna mengembangkan keterampilan pemecahan masalah serta kemandirian siswa.
SuaraJawaTengah.id - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi dinilai menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.
Sekolah pun didorong tidak hanya berorientasi pada capaian nilai akademik, tetapi juga membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan beradaptasi terhadap perubahan.
Kebutuhan tersebut semakin penting mengingat generasi yang saat ini menempuh pendidikan akan menjadi tenaga profesional dan pemimpin Indonesia dalam dua dekade mendatang.
Mengacu pada Future of Jobs Report 2025 yang dirilis World Economic Forum, sekitar 22 persen pekerjaan diperkirakan mengalami perubahan struktural hingga 2030. Laporan tersebut juga memproyeksikan terciptanya 170 juta pekerjaan baru, sementara sekitar 92 juta pekerjaan lainnya berpotensi tergeser.
Baca Juga:Hari Jadi Ke-81 Jateng: Akses Pendidikan Kian Luas dan Gratis, Harapan Tak Lagi Terkikis
Selain perubahan jenis pekerjaan, sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja juga diperkirakan mengalami perubahan. Kondisi itu menuntut dunia pendidikan untuk mempersiapkan generasi muda agar memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Kepala ACG School Jakarta Myles D’Airelle mengatakan, peran sekolah tidak hanya sebatas mempersiapkan siswa menghadapi ujian maupun melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Siswa pergi ke sekolah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tugas kami sebagai pendidik juga untuk memastikan mereka mampu berpikir mandiri, berani mempertanyakan gagasan, mencari solusi, dan memahami tanggung jawab di balik setiap keputusan," ujar Myles, Senin (24/6/2026).
Menurut dia, kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi siswa dalam menentukan masa depan sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Myles menilai perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat membuat profesi masa depan sulit diprediksi secara pasti. Oleh karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat agar tetap mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan perubahan industri.
Baca Juga:SMPN 1 Blora dan Dinas Pendidikan Telusuri Dugaan Perundungan Siswa Kelas IX
"Profesi masa depan tidak lagi dapat diprediksi secara pasti. Karena itu, kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi menjadi salah satu bekal utama," katanya.
ACG School Jakarta menerapkan pendekatan pembelajaran melalui kurikulum International Baccalaureate (IB) dan Cambridge. Kurikulum tersebut menekankan pembelajaran berbasis pemecahan masalah, kolaborasi, serta pengembangan pola pikir kritis dan mandiri.
Penerapan pendekatan tersebut, menurut pihak sekolah, turut tercermin dari capaian akademik dua lulusannya tahun ini. Zavier meraih 42 poin, sedangkan Devansh memperoleh 43 poin dalam International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP), dari nilai maksimal 45.
Capaian tersebut menempatkan keduanya dalam kelompok siswa dengan hasil akademik tertinggi secara global.
Meski sama-sama mencatat prestasi akademik, keduanya memilih bidang studi yang berbeda. Zavier melanjutkan pendidikan di jurusan Teknik Kimia Universitas Indonesia, sementara Devansh memilih Teknik Dirgantara di Nanyang Technological University (NTU) Singapura.
Koordinator Diploma IB ACG School Jakarta Kieran Pascoe mengatakan, pendidikan perlu menjaga keseimbangan antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter serta keterampilan siswa.