- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan anggaran sepuluh miliar rupiah untuk membangun tanggul laut hibrida sepanjang sembilan ratus meter di Sayung Demak tahun 2026.
- Proyek pelindung pantai tersebut memadukan struktur beton dan penanaman mangrove untuk mengurangi gelombang serta mendorong sedimentasi laut secara ekologis.
- Bupati Demak menyatakan proyek tanggul raksasa Pantura dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama pada tujuh belas Oktober tahun 2026 mendatang.
SuaraJawaTengah.id - Upaya menghadapi ancaman banjir rob di pesisir Kabupaten Demak, Jawa Tengah, mulai diperkuat melalui pembangunan hybrid sea wall sepanjang 900 meter di Kecamatan Sayung.
Pembangunan tanggul laut tersebut kini masih berlangsung di wilayah Surodadi, Sayung, dengan dukungan anggaran Rp10 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada 2026.
Bupati Demak Eisti'anah mengatakan pembangunan hybrid sea wall menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkuat perlindungan wilayah pesisir yang selama ini berulang kali menghadapi ancaman banjir rob.
“Pembangunan hybrid sea wall tersebut mendapatkan anggaran sebesar Rp10 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada tahun ini (2026). Titiknya di daerah Sayung, Surodadi,” ujar Eisti'anah di Demak, Senin.
Baca Juga:Penanganan Rob Sayung Demak Dimaksimalkan, Tiga Unit Pompa Kerja 24 Jam
Berbeda dengan tanggul konvensional, konsep hybrid sea wall menggabungkan struktur teknis dengan pendekatan berbasis ekosistem. Struktur pelindung pantai akan dipadukan dengan penanaman mangrove untuk membantu mengurangi energi gelombang sekaligus mendorong terbentuknya sedimentasi di kawasan pesisir.
Eisti'anah mengatakan pembangunan tersebut belum selesai dan masih berada dalam tahap pelaksanaan.
“*Hybrid sea wall itu nanti seperti yang dulu dapat bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), nanti ada bis betonnya, kemudian ada mangrovenya, sehingga nanti ada penumpukan sedimen laut,” jelasnya.
Pemkab Demak juga melibatkan kalangan akademisi dalam pelaksanaan program tersebut, termasuk pakar dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Keterlibatan akademisi diharapkan dapat mendukung penerapan konsep perlindungan pesisir agar sesuai dengan kondisi kawasan Sayung.
Dua Lapis Perlindungan Pesisir
Baca Juga:Dilema Bencana di Demak, Air Dipompa Malah Banjir Makin Tinggi, 53 Ribu Jiwa Merana
Pembangunan hybrid sea wall di Sayung menjadi bagian dari penanganan jangka pendek hingga menengah terhadap ancaman rob di Demak.
Di saat proyek tersebut masih dikerjakan, pemerintah juga tengah menyiapkan proyek perlindungan pesisir dalam skala yang jauh lebih besar melalui pembangunan Giant Sea Wall Pantura.
Eisti'anah menyebut proyek Giant Sea Wall tersebut direncanakan memasuki tahap groundbreaking pada 17 Oktober 2026.
Informasi itu, kata dia, diperoleh dari Badan Otorita Penanggulangan Pantura Jawa (BOPPJ).
“Insya Allah tanggal pertengahan Oktober 2026 akan dilakukan groundbreaking. Semoga bukan hanya peletakan saja, tetapi langsung dilakukan dengan kegiatan atau program selanjutnya,” katanya.
Menurut Eisti'anah, koordinasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Pemkab Demak terkait penanganan persoalan pesisir juga terus dilakukan.