- Perajin Muhammad Fadloli berupaya melestarikan kembali batik Kudus di tengah dominasi industri rokok kretek yang merebut tenaga kerja.
- Pelestarian batik tulis khas Kudus terkendala oleh keterbatasan jumlah tenaga pembatik terampil dan kapasitas produksi yang rendah.
- Fadloli menegaskan pentingnya mewariskan pengetahuan motif klasik kepada generasi penerus agar kekhasan batik Kudus tidak punah.
SuaraJawaTengah.id - Dominasi industri rokok kretek pernah membuat tradisi batik Kudus kehilangan pamor.
Kini, perajin batik Muhammad Fadloli berupaya menyambung kembali mata rantai tradisi tersebut di tengah keterbatasan tenaga pembatik dan kapasitas produksi.
Fadloli mengatakan, batik Kudus memiliki sejarah panjang dan pernah mencapai masa kejayaan sekitar 1930-an. Namun, berkembangnya industri rokok kretek membuat sebagian tenaga pembatik beralih menjadi buruh pabrik.
"Keberadaan batik Kudus itu istilahnya tersaingi dengan keberadaan industri rokok kretek yang sangat mendominasi," kata Fadloli dalam acara Bincang Batik: Menyambung Mata Rantai yang Terputus di Museum Tekstil Jakarta yang dilansir ANTARA, Rabu (28/10/2026).
Baca Juga:UMKM Malessa Tumbuh Pesat, Serap Tenaga Kerja dan Perluas Pasar
Menurut dia, batik Kudus memiliki karakter khas berupa perpaduan corak pesisir dengan warna soga yang identik dengan batik pedalaman.
Tradisi berkain batik juga masih bertahan di masyarakat Kudus, terutama penggunaan sarung batik oleh laki-laki dan kalangan santri.
Namun, upaya melestarikan batik tulis Kudus menghadapi tantangan berupa terbatasnya jumlah pembatik terampil.
Fadloli mengaku kapasitas produksinya belum mampu memenuhi seluruh pesanan, sehingga terkadang bekerja sama dengan keluarganya di Solo untuk membantu produksi.
"Kalau kita sebagai perajin batik tulis disuruh membikin banyak itu enggak sanggup. Yang bisa mencukupi kapasitas itu pengusaha batik cetak," ujarnya.
Baca Juga:Program Rumah BUMN BRI Bantu Lestarikan Budaya lewat Pengembangan Batik Siger Bandar Lampung
Fadloli menegaskan, pelestarian batik Kudus tidak cukup hanya dengan memproduksi kain. Pengetahuan tentang motif klasik dan isen-isen, yakni ornamen pengisi motif yang membutuhkan ketelitian tinggi, juga perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurut dia, keterampilan menghasilkan detail halus membutuhkan proses belajar dan pengalaman panjang. Karena itu, regenerasi pembatik menjadi pekerjaan penting agar kekhasan batik Kudus tidak hilang ditelan perubahan zaman.