SuaraJawaTengah.id - Bagi umat Islam, bulan Rajab dalam penanggalan Hijriyah memiliki makna yang penting dan istimewa. Hal itu pula yang tertanam pada warga Desa Cikakak Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.
Mereka terus melestarikan tradisi yang dijalankan turun temurun dari generasi ke generasi yang dikenal dengan Jaro Rajab. Jaro sendiri berasal dari kata 'penjarohan' yang diartikan sebagai ziarah.
Tradisi Jaro Rajab sendiri berupa penggantian pagar bambu yang mengelilingi Masjid Saka Tunggal yang memiliki nilai sejarah dan juga area pemakaman Ki Tolih yang berjarak 150 meter di selatan masjid.
"Mereka percaya, memperbarui pagar bambu di makam dan masjid akan memberikan cahaya baru bagi hidup mereka," kata Kepala Desa Cikakak Suyitno seperti dilansir dari Satelit Post - jaringan Suara.com, baru - baru ini.
Dijelaskan Suyitno, sebelum ritual di dalam makam Ki Tolih yang terletak di puncak bukit Cikakak dimulai, warga bergotong royong mengganti pagar bambu dimulai dari area Masjid Saka Tunggal hingga menuju Puncak Makam.
Ketika hendak menyeberang sungai, pelaku tradisi harus melepas alas kaki guna menjaga kebersihan makam.
Lebih lanjut, Suyitno menjelaskan Jaro Rojab sudah menjadi adat budaya Cikakak untuk tidak boleh mengganti bambu dengan tembok. Lantaran tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi.
"Pagar tidak boleh ditembok, kalo ditembok tidak ada kegiatan, bahkan Pemprov Jateng pernah ingin menembok namun ditolak kuncen dan keturunannya," katanya.
Meski begitu Suyitno menjelaskan inti Jaro Rajab adalah penghormatan kepada leluhurnya yang hingga kini menjadi pusat kegiatan peribadatan dan interaksi sosial.
Baca Juga: Geger, Mayat Wanita Mengambang Tersangkut Sampah di Depan Kantor Camat
Dalam ritual itu, warga desa juga memanjatkan doa kepada Sang Pencipta agar diberi keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang melimpah.
"Jaroh ini juga mengumpulkan anak cucu serta warga yang merantau ke berbagai wilayah di dunia, setahun sekali belum tentu kumpul, maka ini sebagai wadah ukhuwah islamiah, kearifan dan atas kesadaran sendiri, yang merasa keturunan akan datang," katanya.
Tak heran jika kemudian. ratusan warga dari berbagai pelosok hadir dalam ritual Jaroh yang dipusatkan di area Masjid Saka Tunggal.
Menurut catatan yang ada, Masjid Saka Tunggal didirikan Mbah Tolih pada 1288 Masehi, bahkan lebih tua dari kerajaan Majapahit yang berdiri pada 1294 M.
Masjid ini terbilang unik karena hanya memiliki satu saka (kayu penyangga) di bagian tengah masjid. Selain keunikan tersebut, masjid yang terdaftar dalam cagar budaya tersebut kerap diidentikan dengan penyebaran Islam di wilayah Banyumas dan sekitarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata pada Dinporabudpar Kabupaten Banyumas Deskart Setyo Djatmiko yang mengikuti tradisi tersebut, berharap kearifan lokal ini bisa berjalan beririgan dengan penggalian sejarah Desa Cikakak.
Berita Terkait
-
Kampanye di Purwokerto, Jokowi Curhat Sulitnya Bersekolah
-
Prabowo: Kapan Lagi Putra Purwokerto Masuk Istana
-
Serbu Masjid dan Buang Alquran ke Sumur, Anal Ternyata Sakit Hati
-
Fakta Perusakan Masjid di Banyumas, Berawal Sakit Hati hingga Buang Kitab
-
Masjid di Banyumas Diserang, Kitab Kuning dan Alquran Dibuang ke Sumur
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
BMKG: Semarang Diprakirakan Berawan Tebal Hari Ini, Warga Tetap Diminta Waspadai Perubahan Cuaca
-
Tak Hanya Budaya, Kerja Sama Jateng dan International Zheng He Society Merambah Investasi
-
Diduga Jajal Setelan Motor, Adu Banteng Dua Yamaha F1ZR Berakhir Tragis, Remaja 19 Tahun Putus Kaki
-
Catat! Sejumlah Kawasan di Semarang Alami Pemadaman Listrik Siang Ini
-
Semen Gresik Perkuat Budaya Anti Gratifikasi dan Penyuapan, Wujudkan Tata Kelola yang Berintegritas