SuaraJawaTengah.id - Sekilas bentuknya mirip tameng. Bagian atasnya menguncup, lalu ke bawahnya merekah lebar. Kerangkanya dari anyaman bilah bambu, dilapisi pelepah batang bambu atau clumpring.
Masyarakat Wonosobo Jawa Tengah menyebutnya bundengan. Alat itu mulanya memang berfungsi sebagai tameng. Tapi bukan untuk berlindung dari serangan senjata musuh. Namun, bundengan biasa digunakan petani zaman dahulu untuk melindungi tubuh dari sengatan panas matahari dan guyuran hujan.
Fungsinya mirip caping, namun bentuknya berbeda dan lebih lebar. Jika dikenakan, bukan hanya kepala yang tertutup, namun juga anggota tubuh di bawahnya ikut terlindungi. Menariknya, bundengan bukan sekadar pelindung tubuh dari terik dan hujan. Ia sekaligus alat musik yang menghasilkan bunyi khas mirip gamelan.
Seniman yang memopulerkan bundengan asal Kabupaten Wonosobo Mulyani mengatakan, dahulu, di sela-sela aktivitas bertani atau tengah istirahat, petani biasa mengisinya dengan memainkan bundengan.
"Dulu dipakai petani untuk penutup kepala, saya menemukannya ada di beberapa daerah di Wonosobo,"katanya
Bundengan muncul di tengah kehidupan masyarakat agraris. Sayangnya, semakin lama, tradisi itu kian ditinggalkan hingga kini nyaris punah. Pemain bundengan yang masih ingin melestarikannya pun tinggal segelintir orang.
Kini, mungkin sudah sulit menemukan petani yang mengenakan bundengan di ladang. Alat itu bukannya punah. Seni bundengan kini mulai dihidupkan lagi, namun lebih difungsikan sebagai alat musik untuk mengiringi seni tari.
Mulyani menjadi satu di antara seniman di Kabupaten Wonosobo yang memopulerkan kembali alat musik tradisional itu. Ia yang juga guru di SMPN 2 Selomerto Wonosobo mengenalkan kesenian itu ke para siswanya.
Mulanya, seni bundengan hanya menjadi kegiatan ekstra di sekolah itu. Namun dalam perkembangannya, pihak sekolah memasukkan kesenian itu dalam kurikulum yang diujikan.
Baca Juga: Geliat Para Penerus Kesenian Liong Benteng di Klenteng Boen San Bio
"Satu-satunya sekolah di Wonosobo baru sini yang memasukkan bundengan dalam pembelajaran," katanya.
Puluhan bundengan menyesaki sebuah ruang ekspresi di sudut sekolah itu. Ada beberapa yang berukuran cukup besar dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Kebanyakan berukuran kecil sekitar 0,5 meter. Saat pembelajaran ekstra dimulai, mereka memainkannya bersama sembari menyanyikan lagu Jawa maupun kontemporer.
Mulyani mengatakan, bundengan kini sudah mengalami perkembangan atau modifikasi tanpa mengurangi kekhasannya. Jika dulu tali petikan untuk menghasilkan nada menggunakan ijuk, kini telah dimodifikasi menggunakan senar raket.
Kerangka bundengan pun dibuat lebih rapat menggunakan bambu wulung. Pelapisnya menggunakan pelepah batang bambu atau clumpring.
Mulyani mengatakan, dibanding alat musik lain, bundengan memiliki kekhasan tersendiri. Alat itu bisa menghasilkan nada yang menggabungkan beberapa instrumen gamelan. Karenanya, bundengan cukup dimainkan oleh pemain tunggal tanpa diiringi alat musik lain.
Penyanyi atau sinden membawakan lagu dengan iringan musik itu. Tembang dengan musik bundengan itu biasa untuk mengiringi tarian tradisional seperti tari topeng lengger.
Berita Terkait
-
Arca Ganesha Terbesar Lengkapi Museum Kaliasa Dieng
-
Temuan Arca Ganesha Ungkap Banyaknya Candi yang Hilang di Dieng
-
Miris! Wali Kota Risma Cuma Kasih Anggaran Rp 22 Juta untuk Dewan Kesenian
-
Warga Perbatasan Banjarnegara-Wonosobo Bertaruh Nyawa Lewati Jembatan Bambu
-
Pendaki Asal Depok Meninggal Saat Akan Muncaki Puncak Gunung Prau
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
Pilihan
-
Babak I Indonesia vs Bangladesh: Garuda Pesta Gol, Mitchell Baker Quattrick
-
Bahlil Jadi Menko Hilirisasi Baru, Bagaimana Nasib Proyek Batu Bara di Sumsel?
-
Buntut Temuan di Lapas Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mundur dari Jabatan
-
Reshuffle Kabinet: 'Orang Jokowi' Tersingkir, Sugiono Disebut Rangkap Jadi Menko PMK
-
Diberhentikan dari Kapolri, Listyo Sigit Prabowo Disebut Bakal Jadi Kepala KSP
Terkini
-
Di Makassar, BRI Peduli Bekali Disabilitas Dengan Keterampilan dan Wawasan Digital
-
KP-KBP PSSI Jateng Tegas: Pemilihan 8 Oktober Harus Ditunda, Asprov Dilaporkan ke Komite Etik
-
Kebakaran TPA Jatibarang Semarang Terkendali, 7 Mobil Damkar Masih Disiagakan
-
Kendal Tornado FC Siap Redam Tekanan Manahan, Stefan Keeltjes Tekankan Mental Pemain
-
KPK Periksa Pengurus Perusahaan Terkait Kasus Dugaan Pemerasan Bupati Pemalang