SuaraJawaTengah.id - Mbah Sriah (75) warga Purwodinatan, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang rela membagi makanannya dengan empat kucing yang ia namai Apik, Manis, Sireng dan Penting.
Untuk menghidupi empat kucing itu, Mbah Sriah rela menjadi pemulung meski umurnya tak lagi muda. Hidup Mbah Sriah benar-benar memperihatinkan. Kaki Mbah Sriah tak lagi bisa berjalan.
Ia hanya bisa ngesot untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Meski begitu, Mbah Sriah nampak riang. Tak sedikitpun raut mukanya menunjukan kesedihan.
Dalam sehari Mbah Sriah bisa mendapatkan uang Rp30 ribu hingga Rp50 ribu dari hasil memulung. Sementara dalam sehari Mbah Sriah menghabiskan uang Rp40 ribu untuk makan.
"Jadi Rp40 ribu itu sudah sama makan kucing saya juga. Jadi kalau makan barengan. Kita kalau makan dalam satu hari dua kali karena uangnya terbatas," jelasnya, Rabu (9/9/2020).
Mbah Sriah tinggal di sebuah gubug dengan dinding terpal berukuran 1 meter x 2 meter dengan tinggi sekira 2,5 meter. Posisi rumah terpal hampir mirip dengan tenda dengan posisi menempel di pagar toko yang sudah tak terpakai.
"Ini rumah embah, nyaman tidur di sini," jawabnya.
Sudah 30 tahun Mbah Sriah tinggal di gubug itu. Meski demikian, ia tak mau jika akan dipindah. Mbah Sriah sudah terlanjur nyaman dengan rumah tersebut.
"Kalau hujan tidak kehujanan di sini. Enak, kalau disuruh pindah tidak mau Embah wong di sini enak, tidak ada nyamuk. Kalau Mbah pindah, nanti kucing-kucing ini gimana?," tanya Mbah Sriah.
Baca Juga: Hanya Satu Pendaftar, KPU Kota Semarang Perpanjang Masa Pendaftaran
Sebenarnya, Mbah Sriah pernah memiliki empat orang anak. Namun nasib berkata lain, satu persatu anak Mbah Sriah meninggal mendahuluinya yang disebabkan karena sakit berupa sakit panas, sakit mata, dan kecelakaan.
"Selepas itu saya datang ke sini, pingin di sini nanti sampai mati," jelasnya.
Slamet (60) yang merupakan tetangga mbah Sriah menuturkan, Mbah Sriah sudah tidak bisa berjalan sekira tiga tahun lalu. Pasalnya Mbah Sriah pernah terjatuh sehingga kakinya sakit-sakitan. Selama ini Mbah Sriah memang periang dan pekerja keras.
"Ya dulu tidak separah itu, sekarang susah untuk berjalan. Saya kenal dia sudah lama, sejak masih memulung di sekitar Jamu Jago sampai pindah di sini," ungkapnya.
Kontributor : Dafi Yusuf
Berita Terkait
-
11 Kota Kasus Aktif Corona di Atas 1.000, Kota Semarang Tertinggi
-
Jaga Kesehatan Lansia di Masa Pandemi, Ini 10 Tips dari Dokter
-
Ngeri! Hanya Dua Jam Makanan di Pasar Jaten Ludes, Pengunjung Harus Booking
-
Sayangi Kakek Nenek Anda, 10 Kiat Jaga Kesehatan Lansia di Masa Pandemi
-
Dokter Ungkap Panduan Komunikasi Pada Lansia di Tengah Pandemi Covid-19
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Sarif Abdillah: Konsumsi Ikan Penting untuk Gizi dan Ekonomi Nelayan di Jawa Tengah
-
BRI Cepu Siapkan Skenario Terburuk Gempa dan Longsor, Latih Karyawan Demi Layanan Tetap Prima
-
Stefan Keeltjes Masuk Nominasi Best Coach Pegadaian Championship 2025/2026
-
Korban Skandal Kiai Cabul Ndholo Kusumo Pati Tak Perlu Takut, Ombudsman dan LPSK Jamin Perlindungan
-
El Nino Mengintai, Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Pemda Perkuat Antisipasi Kekeringan