SuaraJawaTengah.id - Warga peranakan turut andil dalam proses lahirnya Republik Indonesia. Mereka pahlawan yang jasanya tidak boleh dilupakan.
Kita mengenal nama besar Liem Koen Hian, pendiri koran Sin Tit Potahun 1929 yang dikenal keras menentang sikap rasial penjajah Belanda. Tahun 1932 Liem mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI).
Meski menyasar pembaca etnis Tionghoa, Sin Tit Po terbit dalam bahasa Melayu. Koran ini juga dibaca luas oleh kalangan bumiputra.
Liem dikenal gigih menyebarkan gagasan keterikatan warga peranakan dengan tanah air tempat mereka dilahirkan. Kebanyakan warga peranakan saat itu adalah generasi kedua yang sudah lahir dan besar di Hindia Belanda.
Liem beranggapan ikatan kebangsaan mereka lebih kuat kepada tanah Hindia Belanda, dibandingkan tanah asal leluhur mereka di Tionghoa. Gagasan ini yang dikemudian hari tumbuh menjadi semangat nasionalisme etnis Tionghoa untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Saat itu tak banyak warga peranakan Tionghoa yang memutuskan terlibat dalam politik pemerintahan Hindia Belanda. Mayoritas bergerak di bidang ekonomi dan perdagangan.
Salah satunya Ko Kwat Ie, pemilik pabrik cerutu “Ko Kwat Ie & Zonen Sigarenfabriek”. Dia adalah generasi ketiga keluarga Ko Tay Tik, imigran Tionghoa asal Fujian yang membawa nama keluarga Ko di Indonesia.
Ko Kwat Ie merintis pabrik cerutu di Batavia tahun 1900. Nanti setelah Ko Kwat Ie meninggal, usahanya dilanjutkan salah seorang anaknya, Ko Hian Ing sebagai manajer.
Sekitar tahun 1908, perusahaan memutuskan memindah pabrik ke Magelang yang lokasinya lebih dekat dengan sentra perkebunan tembakau di Temanggung. Tembakau Temanggung terkenal berkualitas baik, namun saat itu pemasarannya masih bersifat lokal.
Baca Juga: Dana Desa Dirampas KKB Buat Beli Bedil, Kapolda Papua: Ini Jadi PR Kita
Dipilihlah bangunan kecil di Gang Nanking di kawasan Pecinan Magelang sebagai pabrik baru cerutu Ko Kwat Ie & Zonen. Penjualan cerutu jenis Deli Havana, Panama Steer, Massigit Deli, dan Armada laris di kalangan priyayi dan bangsawan Eropa yang tinggal di Hindia Belanda.
Pabrik kecil di Gang Nanking tak lagi muat menampung stok tembakau dan menyimpan hasil produksi cerutu sekaligus. Pabrik diputuskan dipindah ke tempat yang lebih besar di Jalan Prawirokusuman (sekarang jalan Tarumanegara), tak jauh dari rumah Ko Kwat Ie di Djoeritanzuid atau Jalan Juritan Kidul (sekarang Jalan Sriwijaya).
Setelah tutup sekitar tahun 1970-an, kepemilikan gedung sempat berpindah tangan ke PT Mekar Armada Jaya, pemilik usaha karoseri terkenal di Magelang, New Armada. Bekas pabrik cerutu terakhir digunakan sebagai gedung sekolah Bhakti Tunas Harapan.
Nama New Armada katanya terinspirasi oleh cerutu Armada, buatan pabrik “Ko Kwat Ie & Zonen”.
Produksi Senjata di Bengkel Pabrik
Setelah Ko Kwat Ie meninggal 28 Februari 1938, pabrik cerutu dikelola anak-anaknya. Salah satu yang menonjol adalah anak ke 4, Ko Khoen Gwan yang lahir 19 Mei 1906.
Berita Terkait
-
Bocah 5 Tahun Tertebak di Teras Rumah, Saat Polisi Tangkap Bandar Narkoba
-
11 Pahlawan Nasional Asal Sulawesi Selatan, Ada Mantan Bajak Laut
-
Profil Gatot Brajamusti Terlengkap
-
Peringati Hari Pahlawan & Hari Ayah Nasional 2020, Ancol Gelar Acara Seru
-
10 Tahun Warga Sulsel Menanti Gelar Pahlawan Nasional
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
Apel Siaga Bulan K3 Nasional, Semen Gresik Tegaskan K3 sebagai Budaya dan Prioritas Utama
-
Warga Pati Berpesta: Kembang Api Sambut Tumbangnya Bupati Sudewo
-
7 Fakta Mengejutkan Kasus Korupsi Bupati Pati: Dari Jual Beli Jabatan hingga Suap Proyek Kereta Api
-
Pantura Jateng Siaga Banjir dan Longsor! BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat Ekstrem
-
3 MPV Bekas Rp50 Jutaan Tahun 2005 ke Atas: Mewah, Nyaman, dan Kini Gampang Dirawat!