SuaraJawaTengah.id - Siapa sangka jika bangunan di jalan K.H Agus Salim Kota Semarang tepat di belakang pasar ikan hias Jurnatan itu adalah bekas produsen pabrik air minum kemasan tertua di Indonesia.
Pabrik air minum kemasan tersebut bernama Hygeia. Pabrik tersebut sudah ada sejak 1901. Pabrik tersebut didirikan oleh warga Belanda yang bernama Hendrik Freerk Tillema.
Namun kondisi bangunan bekas produsen pabrik air minum tertua di Indonesia itu saat ini memprihatinkan. Orang awam tak akan tau jika bangunan tersebut mempunyai sejarah.
Ahli cagar budaya Universitas Soegijapranata Semarang, Tjahjono Raharjo mengatakan Hygeia merupakan pabrik minuman kemasan pertama yang ada di Indonesia.
Namun, dia tak tau persis sebab produsen air minum kemasan tertua di Indonesia itu tutup. Menurutnya, salah satu sebabnya adalah perubahan jaman dan penjajahan Jepang.
“Saat itu namanya belum Indonesia, tapi Hindia-Belanda. Mungkin saja karena adanya perubahan jaman, apalagi ada penjajahan jepang dan sebagainya,” katanya saat dikonfirmasi, Sabtu (23/1/2021).
Ia menuturkan berdasarkan nilai sejarah, bangunan tersebut seharusnya sudah menjadi cagar budaya. Dia tak tau pasti kenapa Pemerintah Semarang belum menjadikannya sebagai cagar budaya.
Hal itu disebabkan, umur bangunan tersebut sudah cukup tua. Jika dia hitung, umur bangunan tersebut sudah 100 tahun lebih.
“Usia bangunan itu kan 100 tahun lebih, sudah selayaknya menjadi cagar budaya,” katanya.
Baca Juga: Ingin Kedua Orang Tuanya Damai, Alfian Tega Gugat Ibu Kandungnya Sendiri
Tjahjono menyebut bahwa Hendrik Freerk Tillema mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan peduli pada kesehatan warga Semarang. Untuk itulah dia membuat air minum kemasan.
Selain membuat produsen air minum kemasan, Hendrik juga membuat kumpulan foto-foto kondisi rumah di kampung-kampung Semarang yang pada waktu itu masih kumuh dan tak sehat.
“Selain apoteker, dia juga memotret kondisi rumah kampung-kampung di Semarang yang pada waktu itu sangat jelek, sangat tidak sehat,” ucapnya.
Hasil jepretan itu, lanjutnya, entah dipamerkan atau bagaimana tapi bertujuan agar mendapat perhatian dari pemerintah, agar memperbaiki kehidupan di kampung-kampung itu sehingga bisa menjadi kehidupan yang lebih layak.
“Kejadian itu pada abad 20, sekitar tahun 1920an,” katanya.
Kontributor : Dafi Yusuf
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
7 Langkah Cepat Pemprov Jateng Atasi Bencana di Jepara, Kudus, dan Pati
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
7 Fakta Menarik Tentang Karakter Orang Banyumas Menurut Prabowo Subianto
-
Honda Mobilio vs Nissan Grand Livina: 7 Perbedaan Penting Sebelum Memilih
-
7 Mobil Listrik Murah di Indonesia, Harga Mulai Rp100 Jutaan