SuaraJawaTengah.id - PT. Semen Gresik (SG) melakukan penilaian risk maturity level (RML) di lingkup organisasi perusahaan. Tujuannya untuk mengevaluasi kematangan penerapan enterprise risk management(ERM) yang telah dan sedang dijalankan perusahaan.
Kepala Biro Legal dan GRC Semen Gresik, Ahmad Jibril mengatakan, penilaian RML dilakukan untuk menyajikan hasil evaluasi awal (pengukuran dan pengujian) berupa gambaran kondisi aktual penerapan ERM di PT. Semen Gresik.
Sebagai bagian dari PT. Semen Indonesia Tbk. (Persero) atau SIG, katanya, penilaian ini juga bermaksud untuk mengidentifikasi dan menunjukkan aspek-aspek ERM yang telah berjalan baik maupun yang masih memerlukan penyempurnaan dan/atau pengembangan serta usulan rekomendasinya termasuk roadmap tiga tahun ke depan.
"Supaya bisa lebih mengoptimalkan penerapan ERM di PT. Semen Gresik. Selain itu juga untuk mengetahui dan me-review tingkat kematangan (maturity level) implementasi ERM di lingkup perusahaan," kata pria yang akrab disapa Jibril itu dalam siaran persnya, Minggu, (31/1/2021).
Dia melanjutkan, penilaian RML di lingkup Semen Gresik baru pertama kali dilakukan pada tahun 2020 kemarin. Hasilnya Semen Gresik mendapatkan skor pencapaian total 51 persen dengan indeks pencapaian senilai 3,49 dan tingkat maturitasnya repeatable.
Jibril mengatakan, level repeatable menjelaskan kerangka sistem manajemen risiko telah dikembangkan dan dijamin dapat dijalankan secara repetitive. Hal ini ditandai oleh kapabilitas para pelaku sistem yang telah ditingkatkan secara bertahap dan alokasi anggaran untuk pengendalian risiko pun telah dilakukan.
"Ini sudah cukup bagus karena target awal kami berada di level initial. Kami bekerja sama dengan konsultan independen untuk RML assessmentsupaya menghasilkan penilaian yang objektif," kata Jibril.
Jibril menggarisbawahi Semen Gresik punya banyak peluang dan sumber daya untuk meningkatkan indeks pencapaian yang diraih tahun 2020 kemarin. Terpenting yang perlu dilakukan yaitu menanamkan budaya manajemen risiko ke seluruh pegawai dan membiasakan mereka untuk melakukan analisis risiko pada setiap pengambilan keputusan.
Selain itu, diperlukan juga meningkatkan kompetensi untuk masing-masing risk officerdi setiap unit. Tujuannya untuk mengkatalisasi percepatan budaya manajemen risiko.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Pakai Tanjak Dendam Tak Sudah, Ternyata Ini Maknanya
"Untuk tahun 2021 kami menargetkan bisa mendapatkan indeks pencapaian senilai 3,6," pungkas Jibril.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight
-
Sadis! Rampok Ponsel Tebas Telinga Korban hingga Nyaris Putus di Semarang
-
Bripka EJ Mubaligh Polres Wongiri Tersangka Kekerasan Seksual, Terancam Sanksi Kode Etik Pemecatan
-
Di Tengah Ancaman PHK, Investasi Baru di Jateng Buka 650 Lapangan Kerja
-
Musim Kemarau di Jateng Datang, Pendaki Gunung Diminta Tak Nyalakan Api Sembarangan