SuaraJawaTengah.id - Kematian memang menjadi akhir dari kehidupan setiap manusia, dan biasanya terjadi tanpa persiapan apapun. Namun, seorang warga di Wonogiri ini mempersiapkan makam dan peti mati meski masih dalam keadaan sehat.
Ia adalah Haji Suradi Putrul, 63, warga Tandan RT 002/RW 002, Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah. Ia memiliki alasan khusus mempersiapkan peti mati untuk dirinya dan sang istri, 62, sejak 2010.
Dilansir dari Solopos.com, Peti mati itu dipesan dari salah satu toko di Krisak, Desa Singodutan, Wonogiri. Peti itu terbuat dari dari kayu jati berkualitas super dengan harga Rp10 juta ditambah biaya pengecatan Rp2,5 juta. Jadi, total harga kedua peti tersebut sebesar Rp25 juta.
Menariknya, saat ini peti mati tersebut dipajang di ruang tamu Haji Suradi Prutul sebagai meja. Jika dilihat secara sekilas, meja kayu yang ditutupi taplak itu memang tidak seperti peti mati.
Dipajang Jadi Meja
Sementara itu, peti yang disiapkan untuk Sularmi, berada di ruang tamu, namun tidak digunakan untuk meja. Meski begitu, peti mati itu tetap ditutup dengan taplak meja. Kedua peti itu berwarna cokelat tua pekat. Di peti, terdapat ukiran dan setiap sisinya ada tulisan arab bertuliskan istighfar (Astagfirullahal'adzim) dan tahlil (Laailahailallah).
Haji Suradi Prutul mengaku sengaja mempersiapkan peti mati untuk dia dan istrinya sebagai bentuk rasa syukur dan bangga kepada Allah.
Ia menceritakan, ia merupakan anak kelima dari delapan bersaudara. Tujuh saudaranya tidak ada yang lulus Sekolah Dasar. Namun, ia mampu menempuh pendidikan hingga strata II atau magister di bidang ilmu pendidikan.
"Saya bukannya pamer atau riya. Memang alasan saya mempersiapkan peti ini sebagai wujud syukuran dan bangga saya kepada Allah. Kunci hidup saya yaitu kesabaran, kejujuran dan ketekunan," ungkap pensiunan Staf Ahli Bupati Wonogiri itu, Rabu (3/3/2021).
Baca Juga: Duh! Stok Bawang Putih di Jawa Tengah Menipis, Bisa Terjadi Kelangkaan
Haji Suradi Prutul
Suradi merupakan warga asli atau kelahiran Kecamatan Cepogo, Boyolali. Pada 1979, ia diangkat menjadi PNS guru SD di Wonogiri. Kemudian pada 1982, ia secara resmi pindah dan menjadi warga Wonogiri. Sedangkan istri Suradi merupakan orang asli Selogiri, Wonogiri.
Pria 63 tahun itu dikenal dengan sapaan Prutul, karena jari telunjuk tangan kiri putus waktu masih kecil. Kini telunjuk kiri menyisakan satu setengah ruas jari saja.
Perjalanan karier Haji Suradi Prutul diawali sebagai guru SD. Kemudian menjadi pengawas SD, kepala sekolah, Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan, Kasi di beberapa dinas, Kepala Kantor Arsip dan Perpusatakaan Daerah. Jabatan terkahir menjadi staf ahli Bupati Wonogiri.
"Perjalanan karier saya itu dilandasi dengan ketekunan. Saya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Maka atas perjalanan hidup saya ini, izinkan saya bersyukur, salah satunya dengan membuat peti dan tempat makam. Saya sudah merasa cukup saat ini," ujar dia.
Selain itu, kata dia, salah satu alasan sudah mempersiapkan peti dan liang lahat agar ketika ia meninggal tidak terlalu merepotkan warga sekitar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
BBWS Bengawan Solo Perkuat Distribusi Air Bersih Bagi Wilayah Terdampak Kekeringan
-
BNN Gerebek 101 Billiard & Caf Tegal, Temukan Ekstasi Sabu dan 9 Orang Positif Narkotika
-
Truk Hantam 3 Motor di JLS Salatiga, 1 Orang Tewas
-
Sampel Organ Sutrimo Diteliti di Laboratorium: Makan Waktu 2 hingga 3 Pekan
-
Konvoi Usai Menang Futsal Berujung Petaka, 9 Pelajar Diamankan Polisi di Solo