SuaraJawaTengah.id - Sebagian warga Purwokerto, pasti memiliki kenangan tersendiri di sebuah lorong, kompleks Kebondalem, Purwokerto. Medio tahun 2000, lorong tersebut berjajar belasan pedagang kaset Video Compact Disc (VCD) yang memutar lagu saling bersautan.
Suasana riuh pun lekat dengan lokasi tersebut karena memang menjadi pusat warga baik dari dalam maupun kabupaten tetangga untuk mencari film keluaran terbaru pada saat itu.
Memang pedagang tak hanya menjajakan VCD berisi lagu hits saja. Film keluaran terbaru bergenre Superhero maupun action yang kala itu diperankan Rambo sedang digandrungi bapak-bapak yang haus akan hiburan. Terlebih, saat itu tidak ada bioskop yang apdet dengan film terbaru di Purwokerto.
Alhasil, para pedagang VCD meraup untung banyak jikalau ada film layar lebar terbaru. Namun, banyak juga yang menjajakan VCD bajakan.
Karena harga kaset asli hampir 4 kali lipat dari bajakan. Para pembeli pun kebanyakan memilih opsi bajakan. Asalkan ada gambar dan tidak ketinggalan cerita film yang biasanya sekuel.
Kini, suara riuh perlahan sudah mulai lenyap. Bahkan terdengar jelas lirik lagu yang keluar dari sound system milik Fajar Delianto (30). Sebab hanya tersisa dua penjual di lorong tersebut. Itu saja, terkadang yang satu memilih tak membuka lapaknya.
Ia memang tergolong baru sekitar setahun memiliki lapak pribadi. Sebelumnya selama 2 tahun ia berstatus sebagai karyawan penjual VCD. Namun karena bosnya sudah tidak kuat lagi berjualan karena sepi pembeli, Deli memutuskan untuk membeli lapaknya bermodalkan BPKB yang ia sekolahkan ke Bank.
"Saya sempat kerja di Jakarta 4 tahun. Dari tahun 2012, tapi setelah itu pulang kampung. Terus ikut kerja di tukang konveksi sampai akhirnya jualan VCD disini," katanya saat ditemui Suarajawatengah.id, Sabtu (4/9/2021).
Pada saat ia berjualan VCD, masih ada 15 pedagang saingannya. Namun seiring berjalannya waktu karena perkembangan teknologi digital, ditambah pandemi, para pedagang tersebut memilih tutup. Kini hanya Deli dan temannya yang kadang berjualan kadang tutup.
Baca Juga: Rumah Terduga Teroris di Purwokerto Digeledah Densus 88, Satu Laptop Dibawa Petugas
"Saya pernah tuh dalam sehari terjual sampai Rp 1 juta, sebelum pandemi. Tapi sekarang dalam sehari paling ya laku, tiga sampai lima keping. Cukup buat makan istri dan satu anak saya di rumah," jelasnya.
Tak selalu laku, ia sempat juga mengalami satu hari tanpa pembeli. Oleh sebab itu, pada malam harinya, ia lanjutkan dengan jaga parkir di depan Matahari Store yang berada tidak jauh dari lapaknya.
"Beberapa hari kemarin tidak ada yang beli. Ya hitung-hitung jualan untuk menghibur diri lah. Kalau tidak ada pedagang kaset lorong sini pasti sunyi sekali," terangnya.
Sebenarnya sempat terbersit dalam dirinya ingin usaha lain. Namun, lagi-lagi, ia terkendala modal. Hingga akhirnya ia tidak memiliki pilihan lain. Hitung-hitung menjadi modalnya dalam berbisnis kelak.
"Kalau sekarang saya terkendala modal. Tapi setidaknya saya punya modal pelajaran untuk berbisnis lain jika memang suatu saat sudah tidak ada lagi pembeli VCD," ucapnya.
Dihentikannya kegiatan Pembelajaran Tatap Muka, ternyata berpengaruh banyak terhadap omsetnya. Pasalnya, tidak sedikit pula, para pembeli datang dari pelajar yang mencari kaset senam ataupun lagu-lagu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
DPRD Jateng Soroti Jalur Maut Silayur Semarang: Tegakkan Aturan atau Korban Terus Berjatuhan!
-
Terinspirasi Candi Borobudur, Artotel Leguna 'Bayi Cantik' di Kota Magelang
-
BRILink Agen Mekaar Jadi Ujung Tombak Inklusi Keuangan di Komunitas
-
PSIS Semarang vs Kendal Tornado FC, Junianto: Kami Ingin Laga yang Menghibur
-
Bagi Dividen Jumbo, BRI Jaga Keseimbangan Imbal Hasil dan Ekspansi Bisnis