SuaraJawaTengah.id - Selain fenomena penurunan tanah dan rob di kawasan pesisir Kota Semarang juga dihadapkan dengan permasalahan lain, yaitu sampah plastik yang mengancam ekosistem di kawasan pesisir Kota Semarang.
Seperti di Muara Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Kota Semarang terlihat seperti lautan plastik. Fenomena tersebut biasanya terjadi ketika musim hujan salah satunya disebabkan karena sampah kiriman dari daerah lain.
Sampah-sampah tersebut mengelilingi perahu yang bersandar di Tambakrejo yang notabennya dekat dengan laut. Selain perahu, sampah-sampah tersebut disinyalir merusak mangrove dan ekosistem ikan di laut.
Selain itu, warga Tambakrejo yang mayoritas bekerja sebagai nelayan cukup terganggu dengan sampah yang ada di Sungai BKT. Pasalnya, sampah-sampah tersebut sering membuat perahu macet karena sampah yang menempel di sela-sela kipas pendorong.
Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah menyebut, volume sampah Kota Semarang ketika musim hujan terjadi peningkatan 10 persen ketika musim hujan jika megacu pada tahun sebelumnya.
Ketua Walhi Jateng, Fahmi Bastian mengatakan, dalam waktu satu hari Kota Semarang menghasilkan sekitar 1200 ton sampah. Jumlah tersebut meningkat 10 persen ketika musim hujan.
"Ya itu data dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang memang ada peningkatan," jelasnya, Kamis (11/11/2021).
Dia memprediksi, jika sampah-sampah tersebut tak ditangi dengan baik, sampah tersebut bakal mengancam ekosistem yang ada di laut. Akan banyak ikan yang memakan atau terjebak dalam sampah plastik.
"Kalau ditanya mengancamm ya pasti mengancam," paparnya.
Baca Juga: Anak-anak Purbalingga Tukar Buku dengan Sampah lewat Perpustakaan Keliling
Menurutnya, fenomena tersebut disebabkan karena banyak sampah yang dibuang di sungai yang akhirnya berhenti di muara laut. Jika dia lihat beberapa sungai di Semarang memang belum dinormalisasi dengan baik.
Dia juga tak memungkiri jika sampah-sampah tersebut tak hanya berasal dari Kota Semarang namun juga kiriman di kota lain seperti Kabupaten Ungaran dan beberapa daerah lain.
"Yang paling berbahaya adalah ketika bahan mikro plastik dimakan oleh hewan-hewan yang memang berada di laut termasuk ikan. itu juga nantinya jika diknsumsi manusia juga akan berbahaya," ujarnya.
Salah satu warga di Kampung Nelayan Tambakrejo, Marzuki mengatakan, sampah plastik tersebut tak hanya berada di satu titik melainkan di sepanjang muara sungai hingga laut.
Sebagian sampah tersebut sudah terpendam di tanah dan sebagian yang lain masih mengambang atau tersangkut di bibir sungai. Imbas dari banyaknya sampah plastik tersebut mempengaruhi hasil tangkapan para nelayan.
"Di sini banyak nelayan yang jaringnya jebol karena banyak sampah yang ikut terjaring," jelasnya saat ditemui di rumahnya beberapa waktu yang lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Stefan Keeltjes Masuk Nominasi Best Coach Pegadaian Championship 2025/2026
-
Korban Skandal Kiai Cabul Ndholo Kusumo Pati Tak Perlu Takut, Ombudsman dan LPSK Jamin Perlindungan
-
El Nino Mengintai, Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Pemda Perkuat Antisipasi Kekeringan
-
Sayangkan Penanganan yang Lambat, Komnas HAM Dorong Kiai Cabul Ndholo Kusumo Dihukum Berat
-
Ulah Bejat Kiai Cabul, Ponpes Ndholo Kusumo Ditutup! Ratusan Santri Harus Pindah