Ronald Seger Prabowo
Rabu, 02 Februari 2022 | 18:46 WIB
Keadaan rumah warga di Kabupaten Demak yang hancur karena ombak. [Suara.com/Dafi Yusuf]

SuaraJawaTengah.id - Tengah malam ombak mengejutkan warga Dukuh Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Dalam sekejap, rumah mereka hancur. Sebagian hanya tersisa puing-puingnya saja.  

Tak ada lagi yang bisa diambil, semuanya larut dan hancur. Hanya terdengar suara tangisan anak kecil dan warga yang kehilangan rumahnya. 

Salah satu warga setempat, Sayidi mengatakan, pada tahun sebelumnya sudah ada 40 rumah warga yang rusak karena amukan ombak. 

Awal tahun 2022,  sudah ada 5 rumah yang rusak karena terjangan ombak. Sebenarnya, warga sudah berupaya membuat talut dengan tumpukan karung berisi tanah. 

Namun usaha itu seperti sia-sia. Ombak tetap tak terbendung dan rumah-rumah warga kembali diratakan oleh ombak. 

"Ini juga disebabkan karena tak adanya talut pelindung desa," jelasnya, Rabu (2/2/2022).

Kini warga semakin takut karena gelombang ombak semakin tinggi. Tak jarang tinggi gelombang bisa sampai 2 meter lebih. 

"Jika rumah semi permanen yang terbuat dari kayu maka akan mudah rusak," ujarnya. 

Kini warga yang terdampak sudah mulai mengungsi. Warga setempat juga membuat pos penjagaan yang aktif 24 jam untuk antisipasi gelombang tinggi.

Baca Juga: Masuk Media Asing, 3 Orang Digulung Ombak Bono Jadi Berita Tsunami Tonga

"Kami selalu berjaga untuk mengawasi kalau ada gelombang tinggi. Kita bergiliran yang jaga,"ucapnya.

Untuk itu, dia meminta agar Pemerintah Kabupaten Demak segera membangun talut pelindung desa. 

Menurutnya, dengan dibangunnya talut warga bisa hidup dengan tenang karena talut bisa menghalangi air laut yang akan masuk ke permukiman warga.

"Pemerintah pernah membuat bronjong namun tak berarti apa-apa," keluhnya.

Kontributor : Dafi Yusuf

Load More