SuaraJawaTengah.id - Feng shui sering disalahartikan sebagai takhayul atau ramalan yang bersifat klenik. Kini dianut warga keturunan Tionghoa hanya sebatas tradisi.
Memasuki pintu utama rumah Hoo Gien Hwat, kita disambut altar penghormatan untuk para leluluhur. Meja sembahyang ini sering kita jumpai pada rumah-rumah warga Tionghoa.
“Ini altar leluhur kami. Di sini ada kakek buyut saya. Terus kakek-nenek dan papa-mama. Bagi saya ini monumen keluarga. Tanpa mereka tidak ada saya,” kata Hoo Gien Hwat yang biasa disapa Suhu Hwat.
Disematkannya gelar suhu di depan nama Hoo Gien Hwat bukan sembarangan. Hoo Gien Hwat terkenal sebagai master feng shui atau hong shui menurut dialek Hokkian.
Ilmu feng shui dipelajari Hoo Gien Hwat dari ayahnya, Swie Tjien atau lebih dikenal dengan nama Suhu Djoko. Dari sang ayah, Hoo Gien Hwat mempelajari feng shui secara teori dan praktik.
“Kami lima bersaudara. Saya yang nggak punya rumah sendiri, jadi tinggal bersama papa. Jadi papa kemana-mana saya yang antar.”
Dari seringnya mendampingi Suhu Djoko melayani klien, Hoo Gien Hwat mulai mempelajari teori feng shui. Awalnya dia kesulitan karena tidak mahir membaca aksara hanzi (huruf Mandarin).
Padahal buku-buku terkait feng shui semua ditulis dalam bahasa Mandarin beraksara hanzi.
Hoo Gien Hwat mulai belajar teori feng shui dengan manyalin huruf hanzi ke bahasa latin. “Waktu kecil saya pernah les membaca Mandarin. Tapi sudah banyak yang lupa.”
Baca Juga: Viral Video Kerumunan Diduga Perayaan Imlek di Sebuah Mal, Netizen: Siapa yang Kasih Izin sih?
Tidak seperti sistem alfabet, dimana satu simbol mewakili satu huruf, satu huruf pada aksara hanzi mewakili satu kata. Diperkirakan terdapat 9 ribu huruf hanzi yang digunakan dalam bahasa Mandarin.
Sambil mempelajari teori, Hoo Gien Hwat juga belajar praktik langsung di lapangan. Setelah Suhu Djoko meninggal tahun 2003, Hoo Gien Hwat otomatis melanjutkan praktik feng shui.
Dasar ilmu feng shui adalah memahami sifat 10 batang langit dan 12 cabang bumi. Dalam Mandarin disebut Tien Khan dan Tie The.
Sepuluh batang langit itu terdiri dari 5 elemen: kayu, api, tanah, logam, dan air. “Tahun 2020 kemarin itu shio tikus logam positif. Tahun 2021 shio kerbau logam negatif.”
Dua belas shio yang membawa sifat dan karakter dipelajari para leluhur Tiongkok melalui pengamatan posisi planet Jupiter. Posisi Jupiter yang berubah setiap tahun, kemudian ditandai dengan nama-nama hewan.
Perubahan kondisi alam pada tahun-tahun tersebut kemudian dicatat. Pengetahuan itu yang kemudian menjadi dasar menentukan feng shui.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
Terkini
-
Cara Mudah Hapus Background Foto dan Perjelas Gambar Online Pakai CapCut
-
Semen Gresik Gelar Silaturahmi Bersama dengan Puluhan Media Partner Se-Jawa Tengah
-
Gubernur Luthfi Turun Gunung, Pastikan THR Pekerja Jateng Cair Tepat Waktu
-
Exit Tol Bawen Angker! Pemprov Jateng Siapkan Rekayasa Darurat, Antisipasi Kecelakaan saat Lebaran!
-
Tol Bawen-Ambarawa Dibuka Fungsional 13 Maret, Urai Simpang Bawen yang Kritis!