SuaraJawaTengah.id - Pemprov Jateng gencar melakukan operasi pasar jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024.
Operasi pasar yang dilakukan oleh Pemprov Jateng dengan program BUMD Peduli Inflasi itu dilakukan di Pasar Karangayu, Pasar Gayamsari dan Pasar Pedurungan Kota Semarang.
Pj Gubernur Jateng, Nana Sudjana memantau langsung pelaksanaan operasi pasar di Pasar Karangayu, Kota Semarang akhir pekan kemarin.
Ia bertanya kepada sejumlah pedagang pasar mengenai harga bahan pokok. Nana melihat antusiasme masyarakat yang tengah mengantre membeli cabai.
"Sudah satu minggu ini kami melakukan operasi pasar, dengan melakukan penjualan, khususnya cabai, baik cabai merah keriting maupun cabai rawit merah," kata Nana dilansir dari Jatengnews.id--jaringan Suara.com, Senin (18/12/2023).
Dikatakan dia, operasi pasar yang akhir-akhir ini gencar dilakukan, memberikan dampak pada penurunan harga cabai di pasar.
Ia menyebutkan, harga cabai rawit merah yang sempat menyentuh harga Rp80 ribu – Rp 90 ribu/ kg, saat ini turun di harga Rp62 ribu. Sementara untuk jenis cabai merah keriting, saat ini harganya Rp 54 ribu/ kg.
Operasi pasar itu rencananya juga akan dilakukan di kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Sebab, kegiatan tersebut dinilai mampu mempengaruhi harga dan keterjangkauan masyarakat untuk membeli harga-harga komoditas yang diperlukan.
Lantaran cabai seringkali menjadi penyebab naiknya inflasi, lanjut Nana, Pemprov Jateng melalui BUMD PT Jawa Tengah Agro Berdikari sedang menyiapkan green house seluas satu hektar untuk tanaman cabai.
Baca Juga: Pemkot Semarang Pastikan Pasokan Cabai Aman, Masyarakat Diminta Tidak Panic Buying
Selain itu, Dinas Pertanian juga menyiapkan lahan seluas 4,5 hektar untuk penenaman cabai. Dalam satu hektar, diperkirakan akan menghasilkan satu ton cabai.
"Insya Allah bisa membantu kebutuhan masyarakat dan sebagai upaya menstabilkan harga," kata Nana.
Salah seorang warga Puspogiwang, Kota Semarang, Lastri mengaku, menyambut positif kegiatan operasi pasar tersebut. Apalagi dia berjualan gado-gado yang setiap hari membutuhkan cabai.
"Kemarin saya beli setengah kilogram cabai rawit merah Rp40 ribu – Rp41 ribu per kilogram, Ini Rp33 ribu per kilogram," tuturnya.
Mahalnya harga cabai belakangan ini, kata Lastri, membuat labanya berkurang. Tak pelak, dia menyambut positif operasi pasar yang diselenggarakan pemerintah.
Perempuan berusia 60 tahun itu juga mengusulkan agar pemerintah melakukan operasi pasar untuk komoditas pangan yang lain.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Semen Gresik Maknai Hari Kartini dengan Mendorong Peran Perempuan dalam Pengelolaan Lingkungan
-
Semangat Hari Kartini, BRI Perkuat Pemberdayaan Perempuan untuk Ekonomi Inklusif
-
Dorong Bisnis Berkelanjutan, BRI Terapkan Praktik ESG dalam Strategi Operasional
-
BRI Raih Tiga Penghargaan di Infobank 500 Women 2026, Tegaskan Kepemimpinan Perempuan
-
Skandal Investasi Bodong 'Snapboost' di Blora: Nama Guru SMA Terseret, Ratusan Juta Melayang