Berselang 30 tahun setelah Undang-undang Desentralisasi disahkan tahun 1904, pemerintah kolonial merasa perlu mempromosikan “wajah baru” Hindia Belanda.
Koran-koran terbitan para etis seperti De Locomotief, selain memuat tulisan yang nantinya menjadi bahan bakar pergerakan nasional, juga diisi artikel yang menampilkan kemajuan peradaban di wilayah koloni.
Tulisan yang tidak dimuat De Locomotief, dicetak pada majalah atau koran lokal yang terbit terbatas setingkat kota praja atau kabupaten.
“Bisa dibilang tahun 1930-an itu masa keemasan media cetak di Hindia Belanda. Majalah Magelang Vooruit ini sifatnya lokal. Tidak memuat (artikel) daerah lain, hanya menunjukkan kemajuan Magelang,” kata Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana.
Baca Juga: Heboh karena Dikunjungi Jokowi dan Prabowo, Ini 5 Fakta Unik Bakso Pak Sholeh Magelang
Penanggung jawab majalah Magelang Vooruit yang diterjemahkan menjadi “Kemajuan Magelang” adalah Asosiasi-Vereeniging Magelang Vooruit.
Asosiasi ini dipimpin oleh Burgemeester (Walikota) Magelang, Ir R.C.A.F.J Nessel Van Lissa, dengan wakil F.J Eysenring yang saat itu menjabat Wakil Inspektur perusahaan kereta api Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschhappij (NISM).
Sekretaris dipercayakan kepada seorang insinyur Belanda, N.J Hangelbroek. Sedangkan bendahara, dipegang H Hesselink, pedagang di Magelang yang diduga imigran asal Overijssel atau Gelderland, kota kecil di timur Belanda.
Salah satu tokoh kunci majalah lokal ini adalah H.J Sjouke, agen koran harian De Locomotief yang bertanggung jawab atas wilayah Magelang dan sekitarnya.
Selain bertanggung jawab mendistribusikan majalah, diduga kuat H.J Sjouke punya peran penting menentukan materi redaksi Magelang Vooruit.
Baca Juga: Mengingat Kembali Kisah Johannes Van Der Steur, Kompeni Belanda Asuh Ribuan Anak di Magelang
Sebagai koran pendukung gerakan etis, De Locomotief memiliki kepentingan menjaga propaganda politik di Hindia Belanda. Koran yang dibaca mayoritas orang kulit putih ini, merasa penting untuk mengabarkan perkembangan mutakhir koloni mereka.
Berita Terkait
-
Harga Tiket Masuk Candi Borobudur 2025, Lengkap dengan Cara Belinya Lewat Online!
-
3 Jalur Alternatif Mudik ke Magelang Tanpa Macet dari Semarang, Jogja dan Purwokerto
-
Koar-koar Efisiensi, Mendagri Tito Sebut Dana Retret Rp13 M Bentuk Investasi: Kalau Gak Efisien Kasihan Rakyat
-
Retret Magelang Dilaporkan ke KPK, Mendagri Tito soal PT Lembah Tidar: Kami Tak Peduli Siapa Pemiliknya, Terpenting...
-
Dilaporkan ke KPK, Mendagri Beberkan Alasan Pilih PT Lembah Tidar Jadi Vendor Retret Kepala Daerah
Tag
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
Pilihan
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
Terkini
-
Operasi Ketupat Candi 2025: Kapolda Jateng Kawal Kenyamanan Pemudik di Jalur Solo-Jogja
-
Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan, BRI Raih 2 Penghargaan Internasional
-
Pemudik Lokal Dominasi Arus Mudik di Tol Jateng, H+1 Lebaran Masih Ramai
-
Koneksi Tanpa Batas: Peran Vital Jaringan Telekomunikasi di Momen Lebaran 2025
-
Hindari Bahaya, Polda Jateng Tegaskan Aturan dalam Penerbangan Balon Udara