SuaraJawaTengah.id - Kisah penuh perjuangan dialami seorang ayah tunanetra, Sandiman, 57, warga Kelurahan Pedurungan Tengah RT 04/01, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.
Dengan kondisi penuh keterbatasan, ia masih harus merawat putranya, Riza Irawan atau Wawan, 28, yang mengalami lumpuh layu sejak 7 tahun terakhir. Dalam merawat anaknya yang lumpuh, ia dibantu istri dan sang putri, meski keduanya mengalami keterbelakangan mental.
Tidak hanya kondisi kesehatan satu keluarga itu saja yang memprihatinkan, kondisi ekonominya juga sama.
Pemasukan keluarga ini hanya mengandalkan upah yang diterima Sandiman sebagai tukang pijat. Penghasilan itu tak menentu dan selalu habis untuk biaya berobat anaknya yang lumpuh.
Saat ditanya terkait kondisi sang anak, Ingatan Sandiman terbawa ke masa 28 tahun silam. Alkisah, tiga hari setelah kelahiran putra pertamanya itu mengalami kejang dan demam tinggi (step).
Dia dan istri mengira itu hanya penyakit biasa, tetapi ternyata tidak. Mengetahui kondisi Wawan kecil yang tak kunjung membaik, ia kemudian mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk biaya berobat.
Kala itu, akses kesehatan masih mahal. Uang yang dikumpulkan dari hasil memijat, selalu habis untuk berobat.
"Makan seadanya, penting ada untuk berobat. Belum satu minggu, step (kambuh) lagi," katanya saat ditemui SuaraJawaTengah.id di rumahnya di Jl. Pedurungan Tengah IV Nomor 03, Senin (17/2/2025).
Hingga kini, penyakit putranya itu tak juga sembuh, malah menjalar ke jenis penyakit lainnya. Sejak tujuh tahun terakhir, Wawan mengalami lumpuh layu. Badannya kurus, kaki kanannya mengecil dengan tengkorak kepala yang besar.
Baca Juga: Dari Hobi Jadi Juara: Kisah SDN Klepu 03 Ungaran Taklukkan MilkLife Soccer Challenge
"Kata dokter, sarafnya telah mati," ujar Sandiman.
Karenanya, untuk kebutuhan makan minum, Wawan hanya bisa disuapi. Sementara untuk mandi hingga buang air besar, Wawan juga harus dibopong ke kamar mandi.
Ibunya yang bertubuh lebih kecil, kerap kali terjatuh lalu menangis saat membopong Wawan.
"Kalau istri, sudah bilang tidak sanggup. Saya menguatkan meski sebetulnya juga berat menjalani ini. Tapi kalau saya tidak terlihat kuat, siapa lagi yang menguatkan istri," ucapnya.
Apalagi saat ini, Wawan juga mengalami kencing darah. Menurut Sandiman, adanya BPJS Kesehatan memang sangat membantu pengobatan anaknya, tetapi sejumlah obat yang tidak tercover BPJS juga harus ia tebus sendiri di apotek.
"Ini masih rutin kontrol satu bulan sekali di RS Bhayangkara Semarang," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Raih Predikat Prestisius Golden Medal 2026, Semen Gresik Pertahankan Bintang Lima TOP GRC
-
Pelabuhan Tanjung Emas Didorong Naik Kelas Jadi Gerbang Utama Ekspor-Impor
-
Kalah dari Persita, Fabio Lefundes: Java United FC Masih Berproses
-
Ketika Al-Qur'an Satukan Semua Golongan: Cerita Dibalik Megahnya MTQ Nasional di Jateng
-
Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin