SuaraJawaTengah.id - Selama Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830), Pangeran Diponegoro menunjukkan penghormatan mendalam terhadap bulan suci Ramadan dengan menghentikan sementara aktivitas perang.
Keputusan ini diambil untuk menjaga kesucian bulan puasa dan memungkinkan para pengikutnya menjalankan ibadah dengan khusyuk.
Pada 21 Februari 1830, menjelang Ramadan, Diponegoro tiba di Menoreh, perbatasan Bagelen dan Kedu, bersama 700 prajuritnya. Meskipun statusnya sebagai musuh utama Belanda, masyarakat setempat tetap menyambutnya dengan antusias. Di sana, ia menetap di sebuah rumah besar berdinding bambu dan beratapkan daun kelapa, terletak di tepi Kali Progo.
Selama bulan puasa, Diponegoro menekankan pentingnya ibadah dan latihan kanuragan bagi dirinya dan para pengikutnya. Ia memiliki sebuah batu lebar dekat Kali Progo yang digunakan khusus untuk beribadah.
Pada awal Maret 1830, melalui utusannya, Jan Baptist Cleerens, Diponegoro menyampaikan kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock bahwa selama Ramadan, ia tidak akan membahas masalah perang.
Jika ada pertemuan, itu hanya bersifat ramah tamah. De Kock menerima permintaan ini dan bahkan memberikan hadiah berupa seekor kuda abu-abu dan uang sebesar f10.000 untuk kebutuhan para pengikut Diponegoro selama bulan puasa.
Selain itu, anggota keluarga Diponegoro yang ditawan di Yogyakarta dan Semarang diizinkan bergabung dengannya di Magelang.
Namun, di balik sikap ramah tersebut, De Kock memiliki rencana tersembunyi. Ia berharap dengan pendekatan ini, Diponegoro akan menyerah tanpa syarat.
Meskipun demikian, Diponegoro tetap teguh pada pendiriannya untuk mendapatkan pengakuan sebagai sultan Jawa bagian selatan. Pada 25 Maret 1830, dua hari sebelum Ramadan berakhir, De Kock menginstruksikan dua komandannya, Louis du Perron dan A.V. Michels, untuk mempersiapkan penangkapan Diponegoro.
Baca Juga: Deretan Nama Mahasiswa Undip Penerima Beasiswa KIPK, Ramai Diperbincangkan karena Hidup Mewah
Akhirnya, pada hari kedua Idul Fitri, 28 Maret 1830, Diponegoro ditangkap, mengakhiri gencatan senjata yang berlangsung selama Ramadan dengan tragis.
Keputusan Pangeran Diponegoro untuk menghentikan perang selama Ramadan mencerminkan kedalaman spiritualitasnya dan penghormatannya terhadap nilai-nilai agama, meskipun situasi perang sedang berlangsung.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
6 HP Murah dengan Kamera Terbaik Januari 2026, Harga Mulai 2 Jutaan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
Terkini
-
Jawa Tengah Siaga! BMKG Peringatkan Banjir dan Longsor Mengancam Hingga Februari 2026
-
Ini Ciri-ciri Aplikasi Penghasil Uang yang Aman dan Terpercaya
-
Avanza Kalah Telak! Inilah Mobil Seumur Hidup Pilihan Terbaik di Bawah 200 Juta
-
10 Perbedaan Utama Toyota Rush dan Daihatsu Rocky Varian Tertinggi, Lebih Bagus Mana?
-
7 Fakta Banjir Bandang di Pati, Jembatan Putus hingga Tumpukan Kayu Misterius