SuaraJawaTengah.id - Kejuaraan balap motocross dan grasstrack bergengsi bertajuk Trial Game Dirt 2025 resmi dimulai di Kota Semarang pada Jumat-Sabtu, 23-24 Mei 2025.
Bertempat di Lapangan Garnisun, seri perdana Trial Game Dirt 2025 dari lima rangkaian putaran ini menyuguhkan pertarungan sengit antar pembalap papan atas nasional.
Diguyur hujan sejak siang, kondisi lintasan di Lapangan Garnisun berubah menjadi berlumpur dan licin. Hal ini membuat para pembalap harus ekstra hati-hati dan menyesuaikan strategi balapnya.
Salah satu peserta, Farudila Adam Taufan dari tim 64 Skuad Malang mengungkapkan tantangan berat yang dihadapi di sirkuit Semarang kali ini.
“Pertama kali saya ikut di Jember tahun 2022, tapi kali ini lintasannya jauh lebih menantang karena hujan. Lumpur sangat tebal, jadi tidak bisa terburu-buru. Harus sabar dan konsisten,” kata Farudila saat ditemui di sela-sela mencoba Sirkuit, pada Jumat 23 Mei 2025.
Farudila juga menyebut bahwa ia dan timnya masih dalam tahap adaptasi dengan motor dan kondisi lintasan.
“Target saya masuk lima besar saja sudah cukup. Tapi memang persaingannya berat. Suspensi motor harus diubah, gear juga. Kalau hujan, tekanan angin ban harus dikurangi, dan buka gas terlalu cepat bisa terpeleset,” jelasnya.
Kepada para pemula yang ingin meniti karier di dunia motocross profesional, Farudila memberikan tips: disiplin dalam latihan, waktu, dan menjaga kondisi fisik.
“Kalau sekadar main bisa pakai motor apa saja, tapi kalau mau serius, motornya juga harus disesuaikan dengan kelas yang diikuti,” tegasnya.
Baca Juga: PSIS Semarang Fokus Bangkit, M Ridwan Tegaskan Tak Ada Unsur Kesengajaan di Gol Bunuh Diri
Sementara itu, perwakilan Genta Auto & Sport selaku promotor TGD 2025, Abed Nego Antoro, mengatakan bahwa kondisi lintasan berlumpur justru membuat persaingan semakin menarik.
“Para pembalap jadi tampil lebih hati-hati karena takut jatuh. Itu sebabnya, juara bertahan dua tahun berturut-turut, Lantian Juan, baru ada di posisi 10 besar di kelas Free For All Open,” ujarnya.
TGD 2025 digelar dalam empat kelas, yakni tiga kelas utama yang selalu menjadi incaran para rider elite nasional — FFA Open, Campuran Open, dan Campuran Non-Seeded, serta satu kelas tambahan FFA Master.
"Secara regulasi, kita masih mengadopsi sistem yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Catatan waktu tercepat akan dikonversi menjadi poin di setiap kelas," terang Abed.
Untuk seri pembuka di Semarang, Abed menambahkan bahwa ada beberapa perubahan signifikan pada layout sirkuit. Panjang lintasan mencapai lebih dari 800 meter untuk dua lap, dan obstacle (rintangan) yang disiapkan lebih variatif dari tahun-tahun sebelumnya.
“Obstacle yang ada di antaranya double car jump, jumpingan patah, giant table top, titian kobra, jumpingan kurma royal, jumping tong, dan bigfoot jump,” rincinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
Terkini
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight
-
Sadis! Rampok Ponsel Tebas Telinga Korban hingga Nyaris Putus di Semarang
-
Bripka EJ Mubaligh Polres Wongiri Tersangka Kekerasan Seksual, Terancam Sanksi Kode Etik Pemecatan
-
Di Tengah Ancaman PHK, Investasi Baru di Jateng Buka 650 Lapangan Kerja
-
Musim Kemarau di Jateng Datang, Pendaki Gunung Diminta Tak Nyalakan Api Sembarangan