SuaraJawaTengah.id - Proses hukum terhadap mantan Kepala Unit Penegakan Hukum (Kanit Gakkum) Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Yogyakarta, Hariyadi, kini memasuki babak baru.
Ia resmi diadili atas dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian seorang warga Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, bernama Darso (43).
Persidangan perdana digelar di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (17/6/2025), dengan dakwaan yang dibacakan langsung oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Semarang, Agus Arfiyanto.
Dalam dakwaannya, JPU menguraikan bahwa insiden ini bermula dari kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Kota Yogyakarta pada September 2024 lalu.
Kecelakaan itu melibatkan kendaraan sewaan yang dikendarai oleh korban Darso. Peristiwa tersebut memicu proses penyelidikan lebih lanjut oleh Unit Gakkum Satlantas Polresta Yogyakarta, yang dipimpin oleh Hariyadi.
Dalam rangka mengumpulkan keterangan, Hariyadi beserta beberapa anggota polisi lainnya mendatangi rumah korban di kawasan Mijen, Semarang.
Korban kemudian diajak oleh rombongan aparat ke luar rumah dengan dalih untuk memberikan penjelasan terkait kecelakaan tersebut. Tak hanya itu, Darso juga diminta menunjukkan mobil sewaan yang digunakannya saat kecelakaan terjadi.
Namun, alih-alih dibawa ke kantor polisi atau lokasi resmi lainnya, rombongan justru berhenti di sebuah area kebun di sekitar Jalan Purwosari Raya.
Di tempat tersebut, menurut JPU, situasi berubah drastis. Pemeriksaan yang seharusnya berlangsung secara prosedural justru berujung pada dugaan tindak kekerasan fisik.
Baca Juga: Enam Pelaku Penganiayaan Relawan Ganjar-Mahfud MD di Boyolali Ditetapkan Sebagai Tersangka
"Terdakwa menanyai korban mengenai peristiwa kecelakaan, lalu memukul kepala korban menggunakan sandal yang dikenakannya," ujar JPU Agus Arfiyanto di hadapan majelis hakim yang diketuai oleh Hakim Setyo Yoga Siswantoro.
Tak hanya itu, Hariyadi juga diduga memukul kepala bagian kanan dan tubuh korban menggunakan tangan kirinya. Aksi kekerasan tersebut membuat korban terjatuh.
Dalam kondisi lemah, Darso sempat meminta kepada terdakwa agar diambilkan obat, mengingat ia memiliki riwayat penyakit jantung.
Sayangnya, permintaan tersebut tidak dapat menyelamatkan nyawa Darso. Meskipun sempat dibawa ke rumah sakit oleh rombongan polisi, korban dinyatakan meninggal dunia tak lama setelah tiba di rumah sakit.
Kematian Darso menimbulkan banyak tanda tanya, terutama karena terjadi saat ia berada dalam pengawasan dan pengawalan aparat kepolisian.
Kematian korban mendorong pihak kepolisian melakukan langkah ekshumasi atau pembongkaran makam guna melakukan otopsi ulang terhadap jenazah.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
-
Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG
-
Baru Masuk Masa Transisi, TPA Putri Cempo Kembali Terbakar, Polisi Kerahkan Water Cannon
-
Komisi Yudisial Dorong Penguatan Kewenangan dan Kelembagaan dalam Revisi UU KY
-
Tanpa Penonton Bukan Masalah, Kendal Tornado FC Siap Hadapi Barito Putera
-
Ratusan Pelajar Diduga Keracunan MBG, Pemkab Batang Tanggung Biaya Pengobatan