SuaraJawaTengah.id - Tangis pendakwah kondang Miftah Maulana Habiburrahman, atau Gus Miftah, pecah saat menemui Ahmad Zuhdi (60), seorang guru madrasah diniah (madin) di Demak yang viral setelah didenda Rp25 juta akibat menampar muridnya.
Momen emosional ini terjadi di tengah sorotan publik atas nasib guru dengan pengabdian puluhan tahun yang terjerat masalah hukum, sekaligus menyorot manuver Gus Miftah yang membawa pesan dari Presiden Prabowo Subianto pasca-kontroversi yang membuatnya mundur dari jabatan utusan khusus.
Gus Miftah, didampingi istrinya Ning Astuti, menyambangi kediaman Kiai Zuhdi di Desa Cangkring B, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, pada Sabtu (19/7/2025).
Kedatangannya tidak sendiri, ia tampak dikawal oleh anggota Banser dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, yang didirikan oleh sosok kontroversial Hercules dan dikenal memiliki kedekatan dengan Prabowo Subianto.
Suasana haru tak terbendung ketika kepala desa setempat, Zamharir, menceritakan ironi yang dialami Kiai Zuhdi.
"Pak Zuhdi ini puluhan tahun mengabdi sebagai guru mengaji. Dengan gaji yang kecil, untuk memenuhi kebutuhan, ia dan istri bekerja serabutan sebagai buruh tani. Kok ya tega diperkarakan seperti ini," kata Zamharir.
Kasus ini bermula saat Kiai Zuhdi, yang mengabdi lebih dari 30 tahun dengan honor hanya ratusan ribu rupiah per beberapa bulan, secara spontan menampar muridnya yang melempar sandal hingga mengenai pecinya saat mengajar.
Aksi disipliner itu berujung pada tuntutan denda damai dari pihak keluarga murid sebesar Rp 25 juta, yang setelah negosiasi disepakati menjadi Rp 12,5 juta.
Kisah ini pun viral dan memicu simpati luas dari warganet yang menganggapnya sebagai bentuk kriminalisasi terhadap guru.
Baca Juga: Banjir Rob Sayung Demak Seakan Tak Pernah Kering, Tanggul Laut Raksasa Jadi Harapan Terakhir?
Gus Miftah mengaku tak bisa menahan kesedihannya. Ia mengaku terusik sejak mengetahui kasus tersebut dari media sosial hingga tak bisa tidur. Menurutnya, perlakuan terhadap Kiai Zuhdi merendahkan martabat guru ngaji.
"Begitu remehnya, seolah guru mengaji tidak ada nilainya, padahal mereka sangat mulia," ucap Gus Miftah dengan suara bergetar.
Ia lantas membandingkan perasaannya saat menghadapi kasus ini dengan perundungan yang pernah ia alami.
"Saya dibully karena kasus es teh yang viral itu, saya tidak menangis, tetapi tahu kasus Pak Zuhdi, saya menangis," tambahnya, merujuk pada kontroversi yang menyebabkannya mundur dari jabatan Utusan Khusus Presiden belum lama ini.
Lebih dari sekadar kunjungan pribadi, Gus Miftah menegaskan adanya atensi dari lingkar kekuasaan. Ia mengungkapkan telah berkomunikasi dengan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto menitipkan pesan agar kasus yang menimpa guru ngaji di Demak tersebut segera diselesaikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
- Ini 4 Smartphone Paling Diburu di Awal Januari 2026
- 5 Sepatu Nike Diskon hingga 40% di Sneakers Dept, Kualitas Bagus Harga Miring
- 5 Tablet dengan SIM Card Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking Anti Ribet
- Beda dengan Inara Rusli, Wardatina Mawa Tolak Lepas Cadar Demi Uang
Pilihan
-
UMP Minim, Biaya Pendidikan Tinggi, Warga Jogja Hanya jadi Penonton Kemeriahan Pariwisata
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
-
Platform Kripto Indodax Jebol, Duit Nasabah Rp600 Juta Hilang Hingga OJK Bertindak
-
4 HP RAM 12 GB Paling Murah Januari 2026, Pilihan Terbaik untuk Gaming dan Multitasking
Terkini
-
10 Mobil Pick Up Murah Tangguh yang Cocok Buat Usaha
-
7 Fakta Viral Nota Warung Kopi Fantastis di Telaga Sarangan Magetan
-
10 Mobil Bekas di Bawah Rp100 Juta yang Sebaiknya Tidak Dibeli
-
6 Fakta Misteri Hilangnya Nenek Wakijem, Lansia 84 Tahun Tersesat di Hutan
-
Tips Aman Download Video di X Menggunakan SSSTwitter, Caranya Mudah!