SuaraJawaTengah.id - Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang kembali menunjukkan taringnya dalam memburu para koruptor dan pelaku kejahatan yang mencoba lari dari tanggung jawab hukum.
Setelah lebih dari satu dekade, pelarian seorang terpidana kasus penipuan akhirnya terhenti di tangan tim Tabur (Tangkap Buronan) Kejaksaan.
Satu lagi buronan yang perkaranya telah berkekuatan hukum tetap sejak 12 tahun silam berhasil diringkus.
Terpidana tersebut adalah Adrianus Gunartias Tanoto, yang selama ini licin menghindari eksekusi hukuman penjara.
"Terpidana kasus penipuan Adrianus Gunartias Tanoto, ditangkap di Jakarta," kata Kepala Seksi Intelijen Kejari Kota Semarang, Cakra Nur Budi Hartanto, dalam keterangannya di Semarang, Sabtu (9/8/2025).
Penangkapan Adrianus menjadi babak baru dalam pengungkapan tuntas kasus ini. Pasalnya, ia merupakan rekan satu komplotan dari buronan yang telah lebih dulu diamankan beberapa hari sebelumnya, yakni Earlica Alias Sherly.
Keduanya merupakan terpidana dalam perkara penipuan yang sama dan telah menjadi target operasi Kejaksaan.
Cakra menjelaskan, setelah berhasil diamankan di Jakarta pada Jumat (8/8/2025), terpidana Adrianus tidak diberi ruang gerak lagi.
Tim Kejaksaan langsung membawanya ke Semarang untuk dieksekusi. "Terpidana Adrianus langsung dibawa ke Lapas Semarang pada Jumat (8/8) untuk menjalani hukuman 3 tahun penjara," tegasnya.
Baca Juga: 12 Tahun Buron, Wanita Terpidana Kasus Penipuan Diciduk Kejari Semarang
Perjalanan kasus ini sendiri cukup panjang dan berliku. Earlica dan Adrianus pertama kali diadili di Pengadilan Negeri Kota Semarang pada tahun 2012 atas dakwaan penipuan.
Namun, pada pengadilan tingkat pertama, majelis hakim memutus lepas keduanya dari tuntutan jaksa selama 1,5 tahun penjara.
Tak menyerah, jaksa penuntut umum menempuh upaya hukum luar biasa dengan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA).
Upaya ini membuahkan hasil. Pada tahun 2013, MA membatalkan putusan PN Semarang dan menyatakan para terdakwa bersalah.
"Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1357 K/Pid/2013 tanggal 21 Desember 2013, menjatuhkan pidana penjara selama 3 tahun," tambah Cakra.
Namun, sejak putusan MA keluar, para terpidana ini justru menghilang dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
Terkini
-
Transformasi Berkelanjutan, BRI Catat Kinerja Gemilang dan Dukung Program Prioritas Nasional 2025
-
Revolusi Anti-Rob: Jateng Gunakan Pompa Tenaga Surya, Hemat Biaya Operasional hingga Jutaan Rupiah
-
Waspada! Malam Tahun Baru di Jateng Selatan Diwarnai Hujan dan Gelombang Tinggi
-
BRI Blora Gelar Khitan Massal, Meriahkan HUT ke-130 dengan Bakti Sosial
-
Mobilio vs Ertiga Bekas di Bawah Rp150 Juta: 7 Pertimbangan Penting Sebelum Membeli