Pada situs jual-beli logam mulia, Bullion Rates, satu gram platina dijual seharga Rp707 ribu. Jauh lebih mahal dibanding perak yang ditawarkan Rp 20 ribu per gram.
Magis Candi Jawa
Sejak Agustus kemarin, Nelson berkarya di Indonesia. Kedatangannya merupakan tindak lanjut dari program Twin World Heritage antara Candi Borobudur dengan Monastery Batalha Portugal.
Selama di Indonesia, Nelson melukis situs purbakala: Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Borobudur.
Dalam imaji Nelson Ferreira, ketiga candi hadir dalam nuansa transendental. Tekstur platina pada lukisan candi, menegaskan warna magis.
Terutama saat kali pertama melukis Candi Sewu, Nelson mengaku mengalami ‘kilatan’ imajinasi yang membuatnya mendapat begitu banyak sudut pandang kreatif.
Perspektif yang kemudian menjadi fondasi dasar melukis Candi Prambanan dan Borobudur. “Saya menjadi memiliki dasar ide bagaimana mengapikasikan teknik plati gleam untuk melukis ketiga candi. Pengalaman itu membuat saya merinding.”
Melukis ‘Buta’
Nelson bisa dibilang melukis ketiga candi dalam keadaan ‘buta’. Sebab campuran logam platina sebagai pewarna tidak bisa seketika muncul di kanvas saat material masih basah.
Baca Juga: Perayaan Waisak 2025 di Borobudur, Sejarah Biksu Thudong, Lampion, dan Romansa Pasar Medang
Hasil sapuan kuas baru terlihat sekitar satu jam, setelah campuran platina yang diaplikasikan pada kanvas mulai mengering. Tantangan lainnya, melukis harus dilakukan pada malam saat gelap.
“Indonesia sangat lembab. Di Portugal hanya butuh lima menit agar material platina kering. Di sini butuh lebih dari satu jam. Otomatis waktu melukis jadi lebih lama.”
Tantangan melukis menggunakan teknik plati gleam, sama seperti seni kaligrafi pada kertas xuan di Tiongkok atau menulis kanji Jepang di atas kertas beras.
Saat tinta masih basah, tulisan seperti terlihat berantakan di atas kertas. Tapi begitu kelembaban tinta berkurang, tulisan akan semakin jelas terlihat.
Nelson Ferreira mengaku ketertarikannya melukis situs-situs cagar budaya dilatari oleh semangat untuk kembali menghormati dan memunculkan karya monumental dari masa lalu.
Menurut Nelson, terutama di museum-museum Eropa ada keterpisahan antara peninggalan peradaban masa lalu dengan seni kontemporer hari ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Mau Gratiskan Pendidikan SD hingga Universitas Negeri, Dananya dari Uang Korupsi
- Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Mantan Istri Erin: Hamil Duluan Kali
- Viral Video Ulama Houthi Serukan Serangan ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
- 6 HP Samsung Terbaik 2026! Mulai dari Kelas Flagship Hingga Entry-level
- Viral Foto Duduk Bareng, Terungkap 6 Momen Kedekatan Gubernur Sherly dan Ahmad Luthfi
Pilihan
-
Perang Dunia III Nyaris Meledak! AS Mau Serang Kapal China Ternyata AI-nya Salah
-
Petaka 2 Batang Kayu Jati: Ayah Dibui demi Sesuap Nasi, Anak di Bojonegoro Mogok Sekolah Dibully
-
Sejarah Terulang! Beras Premium Kini Langka di RI
-
Emil Audero dan 5 Pemain Tinggalkan Rayo Vallecano
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
Terkini
-
Nongkrong Seharian di Blok M Hub Makin Seru Bareng BRIZZI ARKIV
-
Basecamp Nyaman Sebelum ke Dieng, Ini 3 Hotel di Kota Wonosobo dengan Alat Pemanas
-
Gara-gara Gadget, Budaya Baca Terancam? Ini Peringatan Tegas Wakil Ketua DPRD Jateng
-
Krisis Air Bersih Jangan Cuma Dianggap Masalah Musiman! Ini Peringatan Keras Wakil Ketua DPRD Jateng
-
Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi