- Dr. Lim Joe Thay, dokter forensik muda, terlibat langsung autopsi jenazah tujuh pahlawan revolusi pasca G30S.
- Hasil autopsi membantah isu mutilasi keji, luka yang ada dominan akibat tembakan dan proses pembusukan.
- Fakta medis tidak dipublikasikan, propaganda penyiksaan tetap disebarkan demi kepentingan politik rezim.
Sementara itu, Jenderal M.T. Haryono ditemukan dengan pergelangan tangan hancur, sebuah luka yang menurut Dr. Lim tidak mungkin hanya akibat jatuh ke dalam sumur. Kepala Jenderal Sutoyo pun pecah akibat tembakan.
4. Suharto Turut Menyaksikan
Autopsi berlangsung sepanjang malam hingga dini hari. Saat para dokter sibuk bekerja, Soeharto—yang kala itu mulai mengambil peran penting—datang ke ruang autopsi.
Ia hanya berdiri mengenakan pakaian tempur tanpa berkata sepatah kata. Meski suasana penuh tekanan, Dr. Lim menegaskan bahwa tidak ada intervensi langsung dari pihak militer terhadap jalannya pemeriksaan medis.
5. Membantah Isu Penyiksaan
Salah satu hal yang paling krusial adalah membantah isu yang beredar di masyarakat. Propaganda kala itu menyebut para jenderal mengalami penyiksaan mengerikan: alat vital dipotong, mata dicongkel, tubuh dimutilasi.
Dr. Lim bersama timnya menegaskan tidak ada bukti medis yang mendukung klaim tersebut. Ia bahkan memeriksa organ intim para korban secara teliti dan memastikan tidak ada luka iris, apalagi pemotongan.
Begitu pula dengan bola mata yang hilang—itu disebabkan proses pembusukan, bukan tindakan keji.
Namun, Dr. Lim juga menegaskan bahwa bukan berarti para jenderal tidak disiksa sama sekali. Jenazah mereka jelas menunjukkan bekas tembakan berulang kali.
Baca Juga: Terungkap! 5 Alasan Mengejutkan di Balik Popularitas PKI di Pemilu 1955
Beberapa luka, seperti di pergelangan tangan Haryono, tidak bisa dijelaskan hanya dengan jatuh ke sumur. Tetapi, sejauh hasil visum, tidak ada tanda mutilasi sebagaimana diberitakan.
6. Kebenaran yang Disembunyikan
Setelah autopsi selesai, para dokter sempat merasa waswas. Mereka sadar hasil temuan mereka berlawanan dengan isu yang beredar di masyarakat.
Dalam rapat internal dini hari 5 Oktober, mereka bersepakat menuliskan hasil visum secara jujur. Dr. Lim mengingatkan bahwa ini adalah tugas negara, dan kebenaranlah yang harus dikemukakan, sekalipun nyawa mereka terancam.
Sayangnya, laporan lengkap hasil autopsi itu tidak pernah dipublikasikan kepada masyarakat. Soeharto, yang menerima laporan resmi, membiarkan media massa—khususnya Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha—menyebarkan narasi penyiksaan.
Propaganda tersebut menjadi alat ampuh untuk membangkitkan kemarahan publik dan membenarkan penumpasan besar-besaran terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta simpatisannya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Jaga Sumber Air dari Hulu hingga ke Hilir, AMDATARA Tanam 250 Mangrove di Pesisir Jateng
-
Perempuan Berkebutuhan Khusus Tewas Terpanggang saat Rumahnya Terbakar
-
Kiper Juara Liga 1 Merapat! PSIS Semarang Datangkan Reky Rahayu
-
121 Juru Parkir Semarang Menunggak Setoran, PAD Rp280 Juta Terancam Melayang
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight