- Pemberantasan korupsi era Prabowo fokus pada pengembalian aset negara, bukan sekadar memenjarakan.
- UU Perampasan Aset didesak untuk memungkinkan penyitaan harta koruptor tanpa tunggu vonis pengadilan.
- Kasus korupsi CPO Rp 13,25 T jadi bukti Kejaksaan serius menyasar kejahatan oligarki serakah.
SuaraJawaTengah.id - Paradigma baru dalam pemberantasan korupsi di Indonesia mulai digalakkan.
Kini, fokusnya tak lagi sekadar menjebloskan koruptor ke penjara, tetapi memastikan uang hasil jarahan mereka kembali ke kas negara. Untuk itu, pengesahan Undang-Undang (UU) Perampasan Aset menjadi kunci utama.
Gebrakan ini memungkinkan aparat penegak hukum, khususnya kejaksaan, untuk menyita aset hasil kejahatan tanpa harus menunggu putusan pidana berkekuatan hukum tetap (inkrah).
Langkah ini dinilai sebagai senjata pamungkas untuk memiskin kan para koruptor dan memutus mata rantai kejahatan oligarki.
Ketua Komisi Kejaksaan RI, Pujiyono Suwadi, menegaskan bahwa UU Perampasan Aset akan mengubah peta jalan pemberantasan korupsi secara drastis. Selama ini, proses penyitaan aset harus menunggu proses pidana yang panjang dan berliku.
"Bahwa orangnya di penjara sebagai bagian dari efek jera. Iya betul. Tetapi yang jauh lebih penting adalah uang-uang yang mereka korupsi itu bisa balik ke negara. Ini paradigma baru sekarang," kata Pujiyono dalam Diskusi Publik bertema 'Korupsi Lagi...Korupsi Lagi! Bagaimana Mengatasinya?' di Ungaran, Semarang, Jumat (24/10/2025).
Guru Besar UNS itu menjelaskan, ada dua cara mengembalikan aset hasil korupsi. Pertama adalah conviction based yang berlaku saat ini, di mana aset dirampas setelah ada vonis pidana. Kedua adalah non-conviction based atau in rem, yang diusung dalam RUU Perampasan Aset.
"Jadi ketika proses pidana, silahkan jalan atau tidak, tapi kemudian bisa dibuktikan bahwa barang ini adalah hasil dari tindak kejahatan yang dimohonkan ke pengadilan oleh jaksa maka barang itu kemudian bisa disita. Proses pidananya paralel," paparnya.
Dorongan untuk segera mengesahkan UU ini semakin kuat setelah Kejaksaan Agung (Kejagung) berhasil mengembalikan kerugian negara sebesar Rp 13,25 triliun dari kasus korupsi ekspor Crude Palm Oil (CPO) atau minyak goreng.
Baca Juga: Borobudur Jadi Panggung Diplomasi Budaya: Kunjungan Presiden Macron Diyakini Dongkrak Pariwisata
Keberhasilan ini mendapat apresiasi langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang dinilai tidak main-main dalam memberantas korupsi.
"Dan yang dilakukan Pak Prabowo itu (tandanya) bukan main-main dalam hal pemberantasan korupsi. Karena korupsi itu kejahatan keuangan," tegas Pujiyono.
Presiden Prabowo, saat menerima secara simbolis uang sitaan tersebut, bahkan merinci bagaimana dana fantastis itu bisa dimanfaatkan untuk membangun sekolah hingga mengembangkan kampung nelayan.
"Pak Presiden sampai ngomong bisa bikin sekolah rakyat, bisa mengembangkan kampung nelayan segala macam buat penyimpanan ikan. Ini angka yang luar biasa," aku Pujiyono.
Menurutnya, kasus-kasus korupsi raksasa seperti CPO dan timah di Bangka Belitung senilai Rp300 triliun sering kali terjadi karena adanya kongkalikong antara pejabat dan pengusaha serakah, atau yang populer disebut oligarki.
"Kasus-kasus korupsi jumbo terjadi karena pejabat kongkalikong dengan pengusaha. Basaha ngetrennya oligarki. Mereka (oligarki) mengambil kekayaan alam tadi itu dengan sangat serakah sekali," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Bau Babi di Kapal ASDP Tuai Keluhan Penumpang, Pemerhati Usul Kapal Khusus Ternak dari APBN
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Atlet Silat Event Porprov Jateng Meninggal Dunia: Sempat Cedera di Tengah Kompetisi
-
Dari Medan Perang hingga Turun Padamkan Karhutla: Ini Rekam Jejak Mayjen TNI Sriyanto Pimpin BPGMN
-
Kembangkan Kasus Pembakaran Warung Mi Babi, Polisi Gerebek Ponpes di Karanganyar
-
Kucurkan Rp10 Miliar untuk Solusi Banjir Rob, Pemprov Jateng Bangun Tanggul Hybrid di Demak
-
Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet