Budi Arista Romadhoni
Kamis, 06 November 2025 | 14:44 WIB
Jajaran Komisi A saat bertandang ke Balai Desa Ponggok, yang berada di Kecamatan Polanharjo, Klaten.[DPRD Jateng]
Baca 10 detik
  • BUMDes Ponggok sukses menarik perhatian Komisi A DPRD Jateng, jadi model kemandirian ekonomi desa.
  • Inovasi BUMDes Ponggok tak hanya wisata, tapi juga beasiswa, bukti tata kelola profesional dan transparan.
  • Dispermades Klaten terus dorong BUMDes lain, belajar dari Ponggok untuk inovasi dan penguatan ekonomi.

SuaraJawaTengah.id - Desa Ponggok di Kecamatan Polanharjo, Klaten, kembali menjadi sorotan berkat keberhasilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri yang mampu mencetak pendapatan fantastis.

Kesuksesan ini menarik perhatian Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, yang baru-baru ini melakukan kunjungan ke Balai Desa Ponggok pada Rabu (5/11/2025).

Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, melainkan studi banding mendalam untuk mengupas tuntas rahasia pengelolaan BUMDes yang sistematis, efisien, dan profesional, demi memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa-desa lain di Jawa Tengah.

Desa Ponggok, yang terkenal dengan Umbul Ponggok-nya, telah lama dikenal sebagai salah satu desa paling maju di Kabupaten Klaten.

BUMDes Tirta Mandiri Ponggok tidak hanya berhasil mengelola potensi wisata air, tetapi juga merambah berbagai sektor usaha lain, bahkan memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat sekitar melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang inovatif.

Keberhasilan ini menjadi angin segar di tengah tantangan pembangunan desa yang kerap terkendala masalah ekonomi dan tata kelola.

Wakil Ketua Komisi A, Mukafi Fadli, menyoroti pentingnya perubahan pola pikir dalam pengelolaan BUMDes.

Ia menekankan bahwa BUMDes tidak seharusnya hanya terpaku pada sektor wisata atau kuliner semata.

"BUMDes jangan selalu distigma hanya sebagai tempat wisata dan restoran. Harus ada pola baru yang sistematis dan efisien agar program desa wisata dan pemberdayaan benar-benar berkelanjutan,” ujar legislator asal PKB tersebut.

Baca Juga: Kunci Generasi Emas 2045 Jateng: Sekolah Berintegritas dan Mental Resilien di Era Digital

Pandangan ini menggarisbawahi perlunya inovasi dan diversifikasi usaha agar BUMDes dapat memanfaatkan potensi lokal yang lebih beragam, sehingga tidak mudah goyah oleh perubahan tren pasar.

Senada dengan Mukafi Fadli, Anggota Komisi A, Sony Sumarsono, menyoroti aspek integritas dalam pengelolaan keuangan BUMDes.

Dengan dana yang besar dan potensi keuntungan yang menggiurkan, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci.

Sony secara khusus menyoroti proses perekrutan pegawai dan pengawasan dana yang ketat, mengingat besarnya dana yang dikelola BUMDes Tirta Mandiri Ponggok.

Integritas dalam setiap tahapan pengelolaan, mulai dari perencanaan hingga implementasi dan evaluasi, adalah fondasi utama keberlanjutan BUMDes.

Kepala Desa Ponggok, Jamaluddin Mulyono, memaparkan perjalanan sukses BUMDes Tirta Mandiri Ponggok yang berdiri sejak 2009.

Saat ini, BUMDes tersebut mengelola 11 unit usaha, mulai dari pariwisata air, persewaan gedung, hingga restoran. Keberhasilan ini, menurut Jamaluddin, tidak lepas dari tata kelola yang profesional dan berbasis musyawarah desa.

"Kami memaksimalkan potensi air sebanyak 15.000 liter per detik untuk kesejahteraan warga. Salah satu program sosial kami adalah ‘satu rumah satu mahasiswa’, berupa beasiswa Rp500 ribu per bulan,” jelas Jamaluddin.

Program beasiswa ini menjadi bukti nyata komitmen BUMDes Ponggok dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desanya, menunjukkan bahwa keuntungan ekonomi dapat beriringan dengan dampak sosial yang positif.

Jamaluddin juga membagikan pelajaran berharga dari kegagalan BUMDes di sejumlah daerah lain.

Menurutnya, kegagalan seringkali disebabkan oleh proses perekrutan yang tidak selektif dan perencanaan yang terburu-buru.

Di Ponggok, perekrutan dilakukan melalui tes bertahap dan musyawarah desa, disertai evaluasi rutin dan pembagian hasil usaha secara transparan setiap akhir tahun.

Pendekatan yang cermat dan partisipatif ini memastikan bahwa setiap keputusan didasarkan pada kepentingan bersama dan dikelola oleh individu yang kompeten.

Kepala Dispermades Klaten, Wahyuni Sri Rahayu, menambahkan bahwa dari 391 desa di Klaten, seluruhnya telah memiliki BUMDes.

Namun, baru 13 BUMDes yang masuk kategori maju, dan Ponggok adalah salah satunya.

"Kami terus melakukan pembinaan agar alokasi 20 persen dari dana desa benar-benar dapat memperkuat BUMDes. Selain itu, kami juga menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi untuk mendorong inovasi sesuai potensi masing-masing desa,” ujarnya.

Upaya pembinaan dan kolaborasi ini diharapkan dapat menularkan kesuksesan Ponggok ke desa-desa lain, menciptakan ekosistem BUMDes yang lebih kuat dan inovatif di seluruh Klaten.

Load More