- Wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII pada awal 2025 memicu pembahasan suksesi Keraton Kasunanan Surakarta yang kerap diliputi dualisme kepemimpinan.
- Secara silsilah dan paugeran, GPH Purbaya yang merupakan putra dari permaisuri memiliki posisi terkuat sebagai pewaris takhta.
- Legitimasi GPH Purbaya dikuatkan melalui pengangkatan resmi sebagai putra mahkota pada Tingalan Dalem Jumenengan tahun 2022.
SuaraJawaTengah.id - Wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII pada awal 2025 bukan hanya meninggalkan duka bagi masyarakat Surakarta, tetapi juga membuka kembali perbincangan besar tentang masa depan Keraton Kasunanan Surakarta.
Keraton yang berdiri sejak abad ke-18 itu memiliki tradisi panjang terkait suksesi, namun dalam dua dekade terakhir kerap diliputi dualisme kepemimpinan dan perebutan legitimasi.
Untuk memahami siapa pewaris takhta yang dianggap paling layak, langkah pertama adalah menelusuri kembali silsilah keluarga PB XIII beserta struktur pernikahannya.
Dari situlah terlihat posisi putra-putra dan garis keturunan yang menjadi rujukan utama dalam paugeran keraton. Berikut penelusurannya dari berbagai sumber.
1. Pernikahan Pertama: Tiga Putri dari KRAy Endang Kusumaningdyah
Pernikahan pertama PB XIII adalah dengan Nuk Kusumaningdyah atau KRAy Endang Kusumaningdyah. Dari pernikahan ini lahir tiga putri:
a. GRAy Rumbai Kusuma Dewayani / GKR Timur
b. GRAy Devi Lelyana Dewi
c. GRAy Dewi Ratih Widyasari
Ketiganya memiliki posisi terhormat dalam struktur keluarga, namun menurut paugeran Kasunanan Surakarta, putri tidak berada dalam garis utama pewaris takhta. Meski begitu, peran politik dan budaya putri keraton tetap signifikan, terutama dalam menjaga legitimasi internal.
2. Pernikahan Kedua: Lahirnya Putra dari Garwa Ampil
Pernikahan kedua PB XIII dengan Winari Sri Haryani atau KRAy Winari menghasilkan tiga anak:
a. Alm BRAy Sugih Oceania (putri)
b. GRAy Putri Purnaningrum (putri)
c. GRM Suryo Suharto / GPH Mangkubumi / KGPH Hangabehi (putra)
Baca Juga: 5 Arti Tersembunyi di Balik Kalimat Sakral Paku Buwono XIV untuk Ayahandanya
Dari pernikahan ini, muncullah satu putra laki-laki: GPH Mangkubumi (sering disebut pula KGPH Hangabehi). Dalam diskursus publik bertahun-tahun terakhir, tokoh inilah yang kerap menjadi pusat dinamika suksesi.
Namun, kedudukannya sering menjadi perdebatan karena status ibunya bukan permaisuri, melainkan garwa ampeyan / garwa ampil. Dalam banyak tradisi keraton, status ibu memegang pengaruh besar pada sah tidaknya klaim pewaris. Inilah salah satu titik awal adanya dua kubu suksesi di Keraton Surakarta sejak awal 2000-an.
3. Pernikahan Ketiga: Satu Putra dari Permaisuri GKR Pakubuwono
Pernikahan ketiga PB XIII dengan Asih Winarni atau KRAy Adipati Pradapaningsih / GKR Pakubuwono melahirkan seorang putra laki-laki:
a. GRM Suryo Aryo Mustiko / GPH Purbaya / KGPAA Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram
Penting dicatat: GKR Pakubuwono adalah permaisuri, satu-satunya istri yang menyandang gelar tersebut. Karena itu, secara paugeran, putra dari permaisuri memiliki kedudukan istimewa dalam garis suksesi.
Tidak berhenti di situ, PB XIII pada 27 Februari 2022, dalam upacara Tingalan Dalem Jumenengan ke-18, secara resmi mengangkat GPH Purbaya sebagai putra mahkota. Gelar yang disandangnya:
KGPAA Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram
Pengangkatan itu disaksikan keluarga besar keraton, para sentana dalem, serta pejabat penting yang diundang. Dari sisi legitimasi paugeran, proses ini tercatat sebagai pengukuhan resmi yang tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau sepihak. Dengan fakta ini, GPH Purbaya secara genealogis dan struktural dianggap berada pada posisi terkuat dalam suksesi.
4. Tujuh Cucu Pewaris Keluarga Besar Keraton
Dari keseluruhan pernikahan, PB XIII dikaruniai tujuh cucu yang menjadi bagian generasi penerus keluarga besar Keraton Surakarta. Nama-nama mereka:
a. BRM Pramuditho Adiwiwoho
b. BRAj Shayna Lelyana
c. BRM Noah Satrio
d. BRM Yudhistira Rachmat Saputro
e. BRM Hersar Dewa
f. BRAj Arumi Larasati
g. BRM Suryo Wijaya Basudewa
Meski tidak terkait langsung dengan suksesi saat ini, keberadaan cucu-cucu ini menunjukkan berlanjutnya garis keluarga yang kelak akan menjadi penerus budaya, adat, dan peran keratonan.
5. Lalu, Siapa yang Paling Layak Meneruskan Takhta?
Pertanyaan ini menjadi pusat pembahasan publik pasca wafatnya PB XIII. Jika merujuk pada tiga indikator utama dalam paugeran Kasunanan Surakarta:
a. Garis keturunan langsung
b. Status ibu (permaisuri atau garwa ampil)
c. Penetapan resmi putra mahkota oleh raja yang sedang berkuasa
Maka tokoh yang berada pada posisi paling kuat adalah:
KGPAA Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram (GPH Purbaya)
Putra PB XIII dari permaisuri, sekaligus penerima penetapan resmi sebagai putra mahkota tahun 2022. Sedangkan GPH Mangkubumi berada pada posisi berbeda karena status ibunya bukan permaisuri, sehingga sering muncul perdebatan mengenai legitimasi klaimnya.
Dalam sejarah keraton Jawa, status ibu dan penetapan raja sebelumnya memegang bobot sangat tinggi. Contohnya pada suksesi Paku Buwono X dan XI yang juga diwarnai dinamika serupa.
Silsilah keluarga PB XIII bukan sekadar daftar nama, melainkan petunjuk mengenai masa depan Keraton Surakarta. Dengan wafatnya PB XIII, panggung kembali terbuka: apakah suksesi akan mengikuti paugeran, atau kembali melahirkan dualisme seperti satu dekade terakhir?
Seperti halnya dunia bisnis, sistem kepemimpinan yang kuat membutuhkan suksesi yang tertib, legitimasi yang jelas, dan kesepakatan internal agar tidak menciptakan ketidakpastian. Keraton Solo menghadapi momentum yang sama: menentukan arah kepemimpinan agar budaya dan tradisi yang ratusan tahun berjaya tetap terjaga.
Siapa yang akan naik takhta? Jawabannya akan bergantung pada bagaimana paugeran dihormati dan bagaimana keluarga keraton menyatukan suara dalam waktu dekat.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
-
Waktu Buka Puasa di Semarang Hari Ini 27 Februari 2026, Lengkap dengan Bacaan Doa
-
7 Fakta Banjir Semarang 2026: Motor Nyaris Hanyut di Kawasan Industri Candi
-
Mudik Gratis Bulog 2026 Resmi, Ini Rute Jawa Tengah dan Jogja serta Cara Daftarnya
-
Wuling Gempur Semarang: SUV Canggih Eksion Jadi Bintang!