- Jasad pendaki Syafiq Ridhan ditemukan meninggal dunia pada 14 Januari 2026 setelah 17 hari pencarian di area yang berulang kali disisir.
- Relawan melaporkan kejanggalan karena jasad tidak terlihat padahal area tersebut sudah intensif dilewati tim SAR gabungan.
- Syafiq diduga meninggal akibat hipotermia di medan berbatu dan aliran sungai, sementara evakuasi sempat tertunda cuaca buruk.
4. Kronologi Awal Hilangnya Syafiq
Syafiq mendaki Gunung Slamet bersama rekannya, Himawan Haidar Bahran, melalui jalur base camp Pajaya, Kabupaten Pemalang. Keduanya sempat beristirahat di Pos 5, sebelum Himawan mengalami kram kaki.
Syafiq kemudian memutuskan turun untuk mencari bantuan dan meminta Himawan menunggu. Namun setelah berpisah, Syafiq tidak kunjung kembali. Himawan bertahan hingga akhirnya bergerak naik ke Pos 9 dan ditemukan selamat oleh tim relawan beberapa hari kemudian.
5. Operasi SAR Resmi Ditutup, Relawan Tetap Bergerak
Operasi pencarian resmi oleh tim SAR gabungan sempat dihentikan pada 7 Januari 2026 setelah sepekan tanpa hasil. Meski demikian, relawan dari berbagai base camp tetap melakukan pencarian mandiri atas dasar kemanusiaan dan tanggung jawab moral sebagai pengelola jalur pendakian.
Pencarian diperluas melalui jalur Bambangan dan Baturaden setelah koordinasi antar base camp, hingga akhirnya jasad Syafiq ditemukan.
6. Kendala Evakuasi Akibat Cuaca Buruk
Proses evakuasi jasad Syafiq sempat tertunda karena cuaca ekstrem. Kabut tebal, hujan deras, dan angin kencang membuat tim SAR menghentikan evakuasi sementara. Relawan dan tim SAR bertahan di Pos 5 dan melanjutkan evakuasi keesokan harinya melalui jalur Gunung Malang.
7. Dugaan Penyebab Meninggal Dunia
Baca Juga: Warga Sumbang Tolak Tambang Kaki Gunung Slamet: Lingkungan Rusak, Masa Depan Terancam!
Berdasarkan keterangan tim SAR dan BPBD, Syafiq diduga meninggal akibat hipotermia. Posisi jasad, kondisi pakaian, serta medan ekstrem menjadi indikator awal dugaan tersebut. Jenazah kemudian dievakuasi untuk menjalani proses visum sebelum dibawa ke rumah duka di Magelang.
Di balik upaya pencarian yang rasional dan terukur, muncul pula narasi mistis yang berkembang di kalangan relawan. Meski tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, cerita ini mencerminkan tekanan psikologis dan emosional yang dialami para pencari di medan ekstrem seperti Gunung Slamet.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pendakian gunung menyimpan risiko besar, baik dari sisi alam maupun keterbatasan manusia dalam menghadapi kondisi darurat.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Skandal Investasi Bodong 'Snapboost' di Blora: Nama Guru SMA Terseret, Ratusan Juta Melayang
-
Waspada Semarang! BMKG Prediksi Diguyur Hujan dan Ingatkan Potensi Banjir Rob Hari Ini
-
Bos Sritex Dituntut 16 Tahun Bui: Rugikan Negara Rp1,3 T Tanpa Rasa Bersalah
-
Harga Sayur Lebih Stabil Setelah Ada MBG, Petani Boyolali Harap Program Terus Berlanjut
-
Semangat Petani Boyolali Terangkat, MBG buat Pesanan Sayur Melonjak