- Visum jenazah pendaki Syafiq Ali dilakukan di RSUD Bratapurbalingga setelah evakuasi 15 Januari 2026.
- Hasil visum mengestimasi waktu kematian korban terjadi sekitar 15 hari sebelum ditemukan, berdasarkan temuan belatung.
- Pemeriksaan menyeluruh tidak menemukan tanda kekerasan, namun terdapat luka dan dugaan patah tulang di paha kiri.
Dokter Gunawan Santosa menegaskan bahwa tidak ditemukan indikasi kekerasan atau penganiayaan pada tubuh Syafiq Ali. Hal ini menjadi poin penting untuk menepis spekulasi yang berkembang di masyarakat terkait kemungkinan tindak kriminal.
Kondisi jenazah menunjukkan bahwa kematian korban tidak disebabkan oleh tindakan kekerasan dari pihak lain, melainkan lebih mengarah pada faktor kecelakaan atau kondisi alam yang dihadapi selama pendakian.
5. Luka di Bagian Kaki Menjadi Perhatian Tim Medis
Meski tidak ditemukan tanda penganiayaan, tim medis mencatat adanya luka pada bagian anggota gerak bawah. Luka tersebut berukuran sekitar 6 x 5 sentimeter dan terletak di bagian paha kiri.
Selain luka terbuka, terdapat pula indikasi patah tulang di paha kiri korban. Namun demikian, tim medis belum dapat memastikan secara pasti penyebab luka dan patah tulang tersebut.
6. Penyebab Luka Belum Dapat Dipastikan
Dokter Gunawan menyampaikan bahwa luka dan indikasi patah tulang pada paha kiri belum dapat disimpulkan penyebabnya. Kemungkinan luka tersebut terjadi akibat terjatuh di medan pendakian yang curam masih menjadi salah satu dugaan.
Namun, tanpa pemeriksaan lanjutan atau autopsi mendalam, pihak medis belum dapat memastikan apakah luka tersebut menjadi penyebab langsung kematian atau terjadi setelah korban meninggal dunia.
7. Lingkungan Alam Mempengaruhi Kondisi Jenazah
Baca Juga: 10 Fakta Gunung Slamet yang Mengerikan, Penyebab Pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan Hilang Misterius
Kondisi jenazah Syafiq Ali yang ditemukan di lereng gunung dengan cuaca ekstrem turut memengaruhi hasil pemeriksaan. Paparan suhu dingin, kelembapan tinggi, serta posisi jenazah di alam terbuka selama berhari-hari menjadi faktor yang diperhitungkan dalam analisis medis.
Hal ini juga menjadi alasan mengapa visum difokuskan pada pemeriksaan luar, dengan penekanan pada indikator waktu kematian dan kondisi fisik yang masih dapat diidentifikasi.
Dengan hasil visum yang menyatakan tidak adanya tanda penganiayaan serta perkiraan waktu kematian yang sesuai dengan periode hilangnya korban, pihak berwenang menjadikan hasil pemeriksaan medis sebagai dasar utama dalam penanganan kasus ini.
Operasi pencarian resmi pun ditutup setelah jenazah ditemukan dan proses identifikasi serta visum selesai dilakukan. Kasus ini menjadi pengingat penting akan risiko pendakian gunung dan pentingnya keselamatan serta kesiapan dalam aktivitas alam bebas.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
Terkini
-
BRI DPLK: Cara Buka Dana Pensiun dan Aktifkan Autopayment di BRImo
-
Polisi Libatkan Densus 88 dan Jatanras Usut Pembakaran Warung Mi dan Babi di Sukoharjo
-
Wapres Gibran Serukan Dukungan untuk Stabilitas Ekonomi Usai Pergantian Menkeu
-
20 Ribu Prompt Belum Tentu Jadi Hak Cipta, Pakar Soroti Batas Karya AI
-
UU Ketenagakerjaan Dikejar Deadline, Akademisi Soroti Minimnya Riset Empiris