- Pedagang barang bekas di Pasar Rejowinangun Magelang mengalami penurunan drastis jumlah pembeli hingga seperempatnya sejak enam tahun lalu.
- Penghasilan pedagang seperti Budiono menurun signifikan, dari Rp2 juta menjadi Rp900 ribu per bulan karena sepinya pengunjung.
- Penjual pakaian di pasar tersebut juga terdampak; banyak toko beralih menjual kebutuhan pokok karena daya beli masyarakat yang melemah.
Dia mengingat selama 8 tahun bekerja menjaga toko, dua kali situasi pasar sepi pembeli. Pertama saat puncak pandemi Covid tahun 2020 sampai 2022 dan saat ini.
Safitri memperkirakan jumlah pengunjung pasar mulai berkurang sejak akhir tahun lalu. Sehari paling hanya 8 orang pelanggan yang melarisi dagangan jilbab.
Banting Kiri Toko Pakaian
Jika dulu toko yang dijaga Safitri hanya menjual busana muslim secara borongan, sekarang juga melayani eceran. Beberapa karyawan diberhentikan karena pemilik toko tidak mampu membayar upah.
“Sekarang yang jaga toko tinggal saya. Padahal dulu ada empat orang pelayan. Toko sepi, pekerja ya dikeluarin,” kata Safitri.
Pelanggan toko busana muslim tempat Safitri bekerja kebanyakan penjual pakaian yang membuka kios sendiri di rumah. Kios rumahan banyak yang tutup karena tidak ada pembeli.
“Dulu banyak banget bakul-bakul yang belanja ke sini. Sekarang paling 1-2 saja yang masih kulakan. Mereka nggak bisa bertahan. Kalau lihat sekarang, miris.”
Untuk bertahan hidup, kebanyakan pedagang pakaian memilih banting setir menjual barang-barang yang lebih laku. Orang lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan pokok ketimbang membeli pakaian.
“Toko-toko langganan kami banyak yang tutup. Milih pindah haluan jualan barang lain. Ada yang jualan makanan. Pakaian kan bukan kebutuhan pokok,” kata Safitri.
Baca Juga: Dokter Spesialis Keliling, Mengantar Harapan Pulih Hingga ke Desa
Pasar Lesu
Situsi pasar yang lengang, sejalan dengan kondisi ekonomi dalam negeri saat ini yang dihadapkan pada tantangan memulihkan konsumsi masyarakat. Daya beli masyarakat yang sempat tertekan pada 2025 belum juga pulih.
Sejak kuartal pertama tahun 2024, jumlah konsumsi rumah tangga terus berada dibawah 5 persen. Belanja rumah tangga diatas 5 persen, terakhir terjadi pada kuartal keempat tahun 2023 (5,05 persen).
Selama tiga kuartal terakhir tahun 2025, tercatat konsumsi masyarakat hanya naik pada level 4,89 sampai 4,97 persen.
Kisah Budiono dan Safitri menjadi potret kecil denyut pasar yang melemah ditengah ekonomi yang lesu.
Di Pasar Rejowinangun, barang-barang rombengan masih menunggu diberi kesempatan hidup kedua. Namun para pembeli yang datang memberi kesempatan itu, kini semakin jarang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Helikopter Penerbad Mi-17 Jatuh Saat Padamkan Karhutla di Pematang Limau, Dua Personel Hilang
-
Hanya Sebulan di Istana, Presiden Prabowo Pecat Listyo Sigit Prabowo
-
Tersandung Skandal Penyadapan, Prabowo Pecat Listyo Sigit dari KSP dan Tunjuk Letjen Ariyo Jadi Plt
-
Nusron Wahid Diperiksa KPK Terkait Suap HGB
-
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu
Terkini
-
Anak Rentan jadi Target Utama Perekrutan Kelompok Radikal di Ruang Digital
-
Asian Games 2026 Ungkap Potensi Atlet Indonesia, Sistem Pembinaan Jadi Pekerjaan Rumah
-
Semen Gresik Kembali Ukir Prestasi, Borong 2 Penghargaan TOP Human Capital Awards 2026
-
Ungkap Penyebab Kematian Atlet Porprov, Polisi Tunggu Persetujuan Keluarga untuk Ekshumasi
-
Aliansi Anak Kampung Desak Polri Buka SP3 Denny Indrayana, Pertanyakan Dugaan Kerugian Negara