- Buruh tani seperti Sulistiani menerima upah tandur dibayar tunai per luasan lahan, panen melalui bagi hasil gabah kering 1:8.
- Ketergantungan penghasilan musiman memaksa buruh tani mencari pendapatan tambahan, seringkali dengan membuat jajan pasar saat jeda.
- Kondisi buruh tani mencerminkan tingginya angka kemiskinan perdesaan dan kerentanan pangan akibat terbatasnya daya beli.
Jika dagangan lagi lancar, Sulistiani mengaku bisa menghabiskan bahan baku tiga kilogram singkong. “Kalau sepi ya paling satu kilogram,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Uang hasil jualan kue bukan sekadar penghasilan tambahan. Sering kali justru jadi penyangga utama ketika tidak ada pekerjaan di sawah.
Pernah juga Sulistiani mencoba menjadi petani penggarap dengan sistem sewa lahan atau bagi hasil. Tapi hitungannya tidak menguntungkan.
Ada ongkos membajak sawah, biaya pupuk, dan risiko gagal panen. “Enakan jadi buruh saja,” katanya. Risiko puso ditanggung pemilik sawah, sedangkan buruh cukup menjual tenaga.
Potret Tani Desa
Kisah Sulistiani adalah potret jutaan buruh tani di Indonesia yang bergantung hidup di antara panen dan ketidakpastian. Menurut Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Tidar, Fera Ferbriana Sritutur, kondisi ini berakar pada struktur ekonomi perdesaan.
“Wilayah perdesaan identik dengan sektor pertanian. Masalahnya, sebagian besar petani kita adalah petani gurem, bahkan buruh tani yang tidak punya lahan,” kata Fera.
Pendapatan dari sektor ini bersifat musiman. Saat panen, ada pemasukan. Setelah itu, uang harus cukup untuk modal tanam berikutnya, sekaligus memenuhi kebutuhan hidup hingga panen kembali.
Jika tidak ada sumber pendapatan lain, penghasilan tersebut sering kali tidak mencukupi. Tingkat kemiskinan di perdesaan konsisten lebih tinggi dibandingkan perkotaan.
Baca Juga: Relasi Kuasa dalam Keluarga: Bapak di Kota Magelang Diduga Perkosa Anak Kandung
Data BPS tahun 2025 mencatat, kemiskinan di desa mencapai 11,03 persen, sementara di kota 6,73 persen. Konsumsi per kapita pun timpang: Rata-rata Rp1,2 juta per bulan di desa, berbanding Rp1,8 juta di kota.
Kondisi ekonomi global yang lesu ikut menambah beban. Harga barang konsumsi dan input pertanian naik, sementara harga jual komoditas tidak melulu mengikuti.
Rentan Pangan
Dalam situasi tidak menentu, masyarakat desa cenderung menahan konsumsi. Mereka menyimpan uang seadanya sebagai cadangan. “Ini membuat mereka semakin rentan,” ujar Fera.
Kerentanan itu paling terasa pada kebutuhan pangan. Buruh tani yang tidak punya lahan sendiri, seperti Sulistiani, tetap harus membeli bahan pangan ketika stok beras menipis.
Dengan daya beli terbatas, pilihan mereka sering jatuh pada bahan pangan murah dengan kualitas gizi rendah. Perut kenyang, tapi kebutuhan nutrisi belum tentu terpenuhi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
Terkini
-
Waspada! Semarang Diprediksi Diguyur Hujan dengan Intensitas Sedang Hari Ini
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Aksi Bersih Pantai BRI Peduli Perkuat Komitmen Indonesia ASRI di Bali
-
Gibran Turun Langsung ke Lokasi Tanah Bergerak di Tegal, Cek Kondisi Bencana dan Pengungsian
-
Pemilik Kucing di Blora Tolak Damai, Tuntut Pelaku Penganiayaan Hewan Diproses Hukum