- Puluhan kader PSI Semarang serentak mengundurkan diri pada 22 Februari 2026 akibat pemecatan Ketua DPD tanpa alasan jelas.
- Aksi solidaritas ini melibatkan 13 DPC yang mengembalikan atribut partai sebagai bentuk ketidakpuasan kolektif.
- Kader menuding DPW arogan serta menganggap aksi tersebut mencederai demokrasi dan komunikasi internal partai.
Hal ini menciptakan kesan bahwa ada tembok komunikasi yang menghalangi suara DPC mencapai tingkat yang lebih tinggi, memperparah rasa tidak didengar dan diabaikan.
4. Isu Arogansi DPW dan Cideranya Demokrasi Internal
Fakta keempat adalah tudingan serius mengenai arogansi DPW dan cideranya demokrasi internal. Teguh Pambudi secara terang-terangan menyebut keputusan penunjukan Plt Ketua DPD sebagai "bentuk arogansi DPW PSI" dan "bentuk kegagalan dan kemunduran partai di Jawa Tengah."
Senada dengan itu, Sekjen DPD PSI Kota Semarang, Bayu Romawan, menegaskan bahwa aksi pengunduran diri ini adalah respons terhadap "demokrasi internal partai yang telah diciderai."
Pernyataan-pernyataan ini mengindikasikan adanya pelanggaran terhadap prinsip-prinsip demokrasi dalam pengambilan keputusan partai, yang pada akhirnya memicu reaksi keras dari para kader.
5. Pengunduran Diri Penuh Emosi dan Tanggung Jawab Moral
Fakta kelima adalah dimensi emosional dan moral dari pengunduran diri ini. Aksi tersebut tidak hanya diwarnai oleh pernyataan sikap yang tegas, tetapi juga oleh isak tangis dari para pengurus DPC.
Mereka tak dapat menahan air mata saat mengingat perjuangan membesarkan partai sejak tahun 2024. Ini menunjukkan bahwa keputusan pengunduran diri bukanlah hal yang mudah, melainkan hasil dari pertimbangan mendalam dan rasa sakit hati.
Bayu Romawan menekankan bahwa mereka "mundur dengan terhormat" dan mengembalikan seluruh atribut partai sebagai bentuk "sikap politik dan tanggung jawab moral," menunjukkan keinginan untuk mengakhiri hubungan dengan partai secara bermartabat tanpa menimbulkan polemik lebih lanjut.
Baca Juga: Bukan Cuma Sepak Bola! Intip Keseruan dan Kekompakan Jurnalis Semarang di Tiba Tiba Badminton 2025
Pengunduran diri massal ini menjadi cerminan dari tantangan yang dihadapi PSI dalam menjaga soliditas internal dan kepercayaan kadernya. Fakta-fakta ini menggarisbawahi pentingnya transparansi, komunikasi yang efektif, dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip demokrasi dalam setiap organisasi politik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Pos Kamling Berubah Jadi Lapak Judi Digital, Enam Orang Diciduk di Kudus
-
18 Tim Sepakbola Putri SD Ramaikan Junior Putri Cup 2026 di Semarang
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei