- Perang sarung di Karangrayung, Grobogan pada Rabu (26/2/2026) malam mengakibatkan tewasnya pelajar SMP berinisial ZMR (16).
- Insiden terjadi di Lapangan Sepak Bola Desa Termas setelah korban mengajak berkelahi melalui WhatsApp dan sarung diikat ujungnya.
- Polres Grobogan mengamankan enam remaja terlibat serta menyita tujuh sarung, proses hukum merujuk UU Perlindungan Anak.
SuaraJawaTengah.id - Aksi perang sarung di Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, berakhir tragis setelah seorang pelajar meninggal dunia. Peristiwa yang terjadi pada Rabu malam (26/2/2026) itu kini dalam penanganan Polres Grobogan.
Sejumlah remaja telah diamankan dan barang bukti disita untuk kepentingan penyelidikan. Berikut tujuh fakta yang terungkap dari kejadian tersebut.
1. Terjadi di Lapangan Sepak Bola Desa Termas
Peristiwa perang sarung terjadi di Lapangan Sepak Bola Desa Termas, Dusun Mrayun, Kecamatan Karangrayung, sekitar pukul 22.30 WIB. Lokasi tersebut dipilih sebagai titik pertemuan dua kelompok remaja yang sebelumnya telah berkomunikasi untuk melakukan perkelahian.
Polisi menyebut kedua kelompok memang telah sepakat bertemu di lokasi tersebut sebelum insiden terjadi.
2. Korban Seorang Pelajar SMP Berusia 16 Tahun
Korban diketahui berinisial ZMR (16), pelajar kelas IX SMP Negeri Karangrayung dan warga Dusun Mrayun, Desa Termas.
Menurut keterangan aparat, korban sempat terlihat lemas dan mengalami kesulitan bernapas saat perkelahian berlangsung sebelum akhirnya terjatuh dan tidak sadarkan diri.
3. Bermula dari Ajakan Lewat WhatsApp
Baca Juga: BRI Peduli Pendidikan: Bangun Ruang Kelas Baru MI Riyadlotul Mubtadiin Grobogan
Kapolres Grobogan Ajun Komisaris Besar Polisi Ike Yulianto Wicaksono menjelaskan bahwa kejadian bermula sekitar pukul 21.45 WIB.
“Korban mengirim pesan melalui WhatsApp untuk mengajak berkelahi,” ujarnya.
Ajakan tersebut disanggupi oleh kelompok lain, lalu kedua kelompok sepakat bertemu di lapangan sepak bola Desa Termas untuk melakukan perang sarung.
4. Sarung Diikat pada Ujungnya
Dalam perkelahian itu, sarung yang digunakan disebut diikat pada bagian ujungnya. Praktik ini membuat sarung menjadi lebih keras dan berpotensi menimbulkan benturan yang membahayakan.
Saat korban terjatuh dan tidak sadarkan diri, teman-temannya membawa korban ke pinggir lapangan sebelum akhirnya mengantarkannya pulang ke rumah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menghilangkan Iklan yang Tiba-Tiba Muncul di Layar HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- 4 Moisturizer Skintific untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun, Wajah Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Ahmad Luthfi Pimpin Doa untuk Syabila Rizkia, Jateng Kehilangan Salah Satu Atlet Berprestasi
-
Tragis! Atlet Selam Jepara di Porprov Jateng 2026 Tewas Tenggelam, Ini Kronologinya
-
Persiapan Menuju PON 2028, Gunung Slamet Jadi Kawah Candradimuka Atlet Trail Run Jateng
-
Kendal Tornado FC Gagal Gusur Deltras, Manajemen Tetap Gas Target Liga 1
-
2 Tahun Gerak Nyata, Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi Lewat B50