Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 27 Maret 2026 | 07:36 WIB
Ilustrasi makanan instan dan makanan sehat. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Nana, running enthusiast di Lamongan, konsisten menjaga pola hidup sehat dengan olahraga dan nutrisi seimbang sejak pensiun atlet 2016.
  • Edukasi gizi oleh ibu sangat krusial dalam membentuk kebiasaan makan anak untuk mencegah masalah kesehatan seperti *stunting*.
  • Industri makanan merespons tantangan kesadaran sehat melalui reformulasi produk, namun porsi konsumsi tetap kunci kesehatan individu.

"Tinggal bagaimana porsi konsumsi dan intensitasnya. Jika terus menerus, pasti memicu masalah kesehatan," ujarnya.

Gangguan kesehatan juga bisa disebabkan oleh aktivitas atau faktor keturunan.

Budayawan Antonio Carlos menambahkan perspektif menarik mengenai pola konsumsi masyarakat Indonesia.

Ia menyoroti betapa mudahnya menemukan gorengan di mana-mana, dari yang ringan hingga berat, sementara makanan sehat sulit ditemukan di tepi jalan.

"Sangat sulit menjumpai makanan sehat di tepi jalan," katanya.

Menurutnya, gorengan sudah ada sejak teknologi minyak goreng diperkenalkan, dan untuk beralih ke makanan sehat membutuhkan perubahan generasi.

Kristiono, seorang trail runner enthusiast  asal Surabaya, memberikan contoh bahwa makanan dan minuman yang disorot ini masih dibutuhkan sesekali.

Ia mengaku masih mengonsumsi minuman berkarbonasi, terutama saat membutuhkan kalori ekstra di sela jogging  atau saat cuaca panas.

"Itu juga belum tentu sebulan sekali," tegasnya, menunjukkan bahwa konsumsi sesekali dengan porsi terkontrol masih bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat.

Baca Juga: Waspada! BMKG Prediksi Hujan Lebat Guyur Jawa Tengah Hari Ini

Pandemi Covid-19 telah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Makanan dan minuman sehat, ditambah aktivitas fisik, kini menjadi kebutuhan. Ini menjadi tantangan besar bagi industri makanan dan minuman kemasan. Dhedy Adi Nugroho, Deputy Head for Agriculture, Food and Beverage EuroCham Indonesia, menjelaskan bahwa industri menghadapi dua persoalan utama.

Pertama, produsen minuman sedang mereformulasi komposisi produk, seperti mengurangi gula, yang membutuhkan riset panjang dan biaya besar.

"Bisa-bisa pegawai tidak gajian," kelakarnya, namun menegaskan bahwa ini tetap dilakukan untuk menyediakan produk substitusi yang diterima pasar.

Kedua, adalah portion control  dan edukasi komposisi produk kepada konsumen. Dhedy optimistis bahwa generasi mendatang akan lebih sadar dan teredukasi dalam menerima produk sehat, meskipun "lidah orang Indonesia masih suka manis untuk minuman dan asin untuk makanan. Ini tradisi."

Tudingan bahwa makanan dan minuman kemasan menjadi penyebab gizi buruk, stunting , obesitas, hingga diabetes, juga menjadi tantangan.

Dhedy menjelaskan bahwa dalam konteks asupan minuman manis, ada tiga aspek: minuman buatan sendiri, ready to drink , dan minuman kemasan berpemanis. Namun, hanya minuman kemasan pabrikan yang komposisi gulanya jelas dan wajib ditulis sesuai arahan BPOM.

Load More