Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 27 Maret 2026 | 07:36 WIB
Ilustrasi makanan instan dan makanan sehat. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Nana, running enthusiast di Lamongan, konsisten menjaga pola hidup sehat dengan olahraga dan nutrisi seimbang sejak pensiun atlet 2016.
  • Edukasi gizi oleh ibu sangat krusial dalam membentuk kebiasaan makan anak untuk mencegah masalah kesehatan seperti *stunting*.
  • Industri makanan merespons tantangan kesadaran sehat melalui reformulasi produk, namun porsi konsumsi tetap kunci kesehatan individu.

SuaraJawaTengah.id - Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern dan gempuran makanan instan, tantangan untuk menjaga pola hidup sehat semakin nyata.

Minggu (8/3/2026) di Lamongan, ketika sebagian kota masih dikepung banjir, Nana, seorang running enthusiast  dan mantan atlet balap sepeda, menunjukkan dedikasinya pada kebugaran.

Bersama komunitas Sego Bo-RUN, ia tetap berolahraga, menegaskan bahwa menjaga kesehatan adalah komitmen seumur hidup, bukan hanya bagi atlet.

Kisah Nana ini menjadi cerminan perjuangan banyak individu dan keluarga dalam menghadapi dilema meja makan di era serba cepat.

Nana, yang pensiun sebagai atlet balap sepeda pada tahun 2016, tetap rutin berolahraga, melahap jarak 50-60 km setiap pekan, bahkan *long run* hingga 21 km di akhir pekan. Baginya, asupan nutrisi seimbang adalah kunci.

"Jika tidak diimbangi makanan bernutrisi, ancamannya cedera bisa mengakhiri olahraga," ujar wanita kelahiran Februari 1983 ini.

Rutinitasnya meliputi sarapan sayur, telur rebus, dan buah segar, serta makan berat dua kali sehari terakhir pukul 17.00 WIB.

Pola hidup sehat ini, yang ia dapatkan secara alamiah saat menjadi atlet, kini ia tularkan kepada kedua anaknya.

Namun, menjaga pola hidup sehat tidak hanya berlaku bagi mantan atlet. dr. Andriyanto, Kepala BRIDA Jawa Timur dan mantan Ketua Umum Asosiasi Nutrisionis Indonesia (AsNI), menekankan peran vital orang tua, khususnya ibu, dalam membentuk kebiasaan makan anak.

Baca Juga: Waspada! BMKG Prediksi Hujan Lebat Guyur Jawa Tengah Hari Ini

"Edukasi gizi itu perlu diberikan kepada ibu-ibu yang memiliki balita dan anak yang masuk tahap pertumbuhan," katanya.

Ibu-ibu adalah garda terdepan dalam menghadapi masalah kesehatan di Indonesia seperti gizi buruk, stunting , dan obesitas, yang seringkali berakar pada pola konsumsi makanan yang kurang sehat.

Para ahli gizi menyoroti daftar menu harian masyarakat yang masih didominasi gorengan, makanan olahan, makanan dengan pemanis buatan, serta makanan instan.

Penggunaan penguat rasa berlebihan juga menjadi perhatian, karena dapat memicu masalah kesehatan pada anak-anak jika dikonsumsi terus-menerus.

Andriyanto mencontohkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah positif, namun ia berharap menu dalam program tersebut benar-benar memperhatikan aspek kesehatan dan dapat diimplementasikan di rumah.

Meskipun demikian, Andriyanto menolak menyalahkan sepenuhnya makanan dan minuman kemasan atau berpemanis sebagai penyebab tunggal gangguan kesehatan.

Load More