- Lebih dari seribu warga Desa Sambeng, Borobudur mengandalkan mata air Kali Ngudal sebagai sumber utama air bersih sehari-hari.
- Aktivitas penambangan pasir dan tanah uruk di sekitar lokasi mengancam kelestarian mata air yang telah dikelola warga.
- Warga Sambeng menolak keras rencana penambangan tersebut guna mencegah kerusakan lingkungan serta hilangnya akses air bersih bagi masyarakat.
Nyi Gadung Melati diyakini sebagai salah satu peguasa alam spritual lereng Merapi. Daerah kekuasanya terutama di wilayah Gunung Wutoh yang menjadi gerbang utama “Kraton Merapi”.
Berbagai analisis mitos menyebutkan bahwa Nyi Gadung Melati dihormati karena berjasa merawat kelestarian alam di wilayah Gunung Merapi.
Simbol Alam Lestari
Sosoknya dianggap memiliki peran penting menjaga ketahanan pangan dan pelindung dari paceklik. Sebagian petani di Sleman dan Boyolali biasa melakukan ritual simbol kelestarian alam melalui Nyi Gadung Melati.
Ternyata ada benang merah yang menghubungkan mitos Nyi Gadung Melati nun jauh di wilayah utara Kraton Yogyakarta, dengan keyakinan warga Sambeng yang tinggal di lereng perbukitan Menoreh.
Dikutip dari situs Jejaring Desa Wisata, selama periode 1800-1855 Sambeng pernah dipimpin lurah Kromo Wijoyo. Pada masa yang bersamaan, Kromo Wijoyo juga menjadi lurah Curah—sekarang masuk Desa Sukorini, Muntilan.
Letak Curah dan Sambeng bersebelahan, hanya dipisahkan aliran Kali Progo. Hingga akhir hidupnya, Kromo Wijoyo memutuskan tinggal dan menetap di Sambeng.
Konon Kromo Wijoyo masih sambung kerabat dengan keturunan Kraton Mataram. Sehingga tidak aneh jika banyak keyakinan yang dianut warga Sambeng dekat dengan tradisi Mataraman-Yogyakarta.
“Waktu lokasi sendang mau dibeteng (ditembok) juga nyuwun pangestu warga sekitar yang memanfaatkan mata air ini.”
Baca Juga: Warga Sumbang Tolak Tambang Kaki Gunung Slamet: Lingkungan Rusak, Masa Depan Terancam!
Warga mengizinkan sekitar sendang ditembok sebagian. Bagian bawah tembok yang dekat dengan permukaan air, dibiarkan hanya diperkuat tumpukan batu kali tanpa semen. Sendang selesai dipugar pada 4 September 2016.
Ancaman Tambang Pasir
Zaman nyatanya berubah. Cerita keramat Nyi Gadung Melati tidak lagi sanggup melindungi sendang kali Ngudal dari ancaman kerusakan.
Kisah angker hanya sanggup melindungi sumber air dari kerusakan yang disebabkan tangan-tangan jahil. Sedangkan lengan-lengan ekskavator yang kekar—kasar tidak mengenal mitos dan kearifan lokal.
Tanggul kali sepanjang 15 meter rusak dilabrak arus air pada banjir hujan kemarin. Di antara sisa-sisa tanah merah tampak akar pohon kelapa muda yang ikut tumbang.
Jaraknya hanya sekitar 6 meter dari bak penampungan air sendang Ngudal. Jika pereng sungai terus tergerus, posisi bak penampungan air bisa terancam hanyut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Ritual Sakral Waisak: Puluhan Biksu Jemput Air Berkah Umbul Jumprit untuk Sucikan Jiwa Manusia
-
Jateng Darurat Kekerasan Pesantren, Gubernur Luthfi Dorong Gerakan 'Asah-Asuh'
-
Waspada! Dampak Siklon Jangmi, Jawa Tengah Masuk Zona Sabuk Konvergensi Hujan Lebat
-
Misteri Kematian Satu Keluarga, Sampel Organ Korban Termuda Jadi Kunci Pengungkap Misteri Kledung
-
Kelola Payroll Perusahaan Lebih Mudah Bersama QLola by BRI