Budi Arista Romadhoni
Selasa, 21 April 2026 | 09:09 WIB
Seorang warga menunjukkan aplikasi "snapboost" yang ternyata merupakan aplikasi investasi yang diduga merugikan banyak orang di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (ANTARA/Gunawan.)
Baca 10 detik
  • Belasan warga Blora melaporkan aplikasi investasi Snapboost ke pihak kepolisian atas dugaan penipuan berkedok keuntungan investasi fantastis.
  • Satreskrim Polres Blora mencatat 17 korban mengalami kerugian total mencapai Rp332 juta akibat aplikasi yang tidak bisa diakses.
  • Polisi sedang mendalami dugaan keterlibatan oknum guru dan berkoordinasi dengan tim cyber crime Polda Jawa Tengah dalam penyelidikan.

"Saat ini, Polres Blora juga berkoordinasi dengan tim cyber crime Polda Jawa Tengah untuk mempercepat proses penyelidikan," tegas AKP Zaenul Arifin.

Kisah Pilu Korban: Dari Mimpi Perbaiki Ekonomi Hingga Dana Raib

Ilustarsi penipuan phising [Suara.comBRI]

Salah satu korban, Johan Adi Saputro, menceritakan bagaimana ia bisa terjerat dalam lingkaran setan aplikasi ini. Motivasi awalnya sangat manusiawi dan banyak dirasakan orang lain.

"Saya awalnya ikut melalui akun teman. Tujuannya sederhana, ingin memperbaiki ekonomi. Tawaran yang disampaikan cukup meyakinkan, apalagi ada iming-iming keuntungan yang terlihat nyata," ujarnya dengan nada lirih.

Terbuai oleh janji manis, Johan menyetorkan uangnya secara bertahap, berharap modalnya akan berbuah manis. Namun, harapan itu pupus.

"Saya deposit mulai dari Rp2 juta, lalu bertambah hingga total sekitar Rp49,5 juta. Namun selama itu, saya belum pernah berhasil menarik hasil atau keuntungan," ungkapnya.

Puncak masalah terjadi pada awal April 2026. Aplikasi yang semula terlihat profesional mulai menunjukkan gelagat aneh.

"Awalnya masih berjalan, tetapi sekitar tanggal 3 April 2026 mulai sulit melakukan penarikan. Lalu sempat dibuka lagi, dan terakhir sekitar tanggal 12 April 2026, setelah itu sudah tidak bisa diakses atau ditarik sama sekali," jelasnya merinci kronologi keruntuhan aplikasi tersebut.

Johan menduga jumlah korban sebenarnya jauh lebih banyak dari yang telah melapor. "Ia menduga banyak korban lain yang belum melapor karena berbagai alasan, termasuk rasa malu karena menyangkut privasi."

Baca Juga: Duh! Guru dan Murid di Blora Jadi Korban Investasi Bodong, Ini 7 Faktanya

Menghadapi modus kejahatan digital yang semakin canggih, AKP Zaenul Arifin memberikan peringatan keras kepada masyarakat luas.

"Di era media sosial seperti sekarang, potensi kejahatan semakin besar. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur dengan promosi atau tawaran yang belum jelas kebenarannya."

Load More