- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan program pelatihan bagi guru sekolah reguler untuk mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus.
- Implementasi pendidikan inklusif di sekolah reguler masih terkendala kurangnya guru profesional, fasilitas pendukung, serta risiko perundungan terhadap siswa.
- Sri Murdani mendirikan TK Mutiara Hati di Magelang guna menyediakan pendidikan khusus bagi anak disabilitas dari keluarga kurang mampu.
Sejak tahun 2016, Sri Murdiani mendirikan dan mengelola TK Mutiara Hati di Desa Borobudur. Sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang sebagian besar berasal dari keluarga tidak mampu.
Setelah lulus dari Universitas Negeri Semarang tahun 2000, Sri Murdiani sempat bekerja sebagai guru di berbagai sekolah dan lembaga bimbingan belajar.
Pengalaman serta cara pandangnya soal pendidikan berubah ketika dia menjadi guru pendamping inklusif di SD Negeri Mendut. Di sini Sri Murdiani berhadapan dengan dinamika yang selama ini hanya dipahaminya secara teoritis.
Interaksi mengajar siswa berkebutuhan khusus tidak selalu berupa komunikasi verbal. Dalam banyak situasi, respons anak muncul dalam bentuk fisik yang intens—tarikan, pukulan, hingga lemparan benda.
Pada titik kritis, Sri Murdiani berada diantara pilihan: bertahan atau menyerah. Alih-alih mundur, ia memilih bertahan dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik perilaku tersebut.
Sri Murdiani mulai mempelajari karakter anak-anak berkebutuhan khusus secara lebih dalam. Mencari berbagai referensi, hingga menjalin komunikasi dengan tenaga ahli untuk memperkaya pendekatan mengajar.
“Ketika mereka melakukan action, sebenarnya karena mereka ingin diperhatikan. Tapi orang lain mengatakan mereka nakal. Karepe dewe (semaunya sendiri). Nah akhirnya apa yang terjadi, di-bully sama temen temen.”
Problem Sistem Pendidikan
Semakin jauh memperlajari karakter anak berkebutuhan khusus, Sri Murdani semakin sadar bahwa persoalan bukan hanya pada metode mengajar. Tapi pada sistem pendidikan yang menaunginya.
Baca Juga: Peta Jalur Rawan Longsor di Magelang: Waspada Saat Mudik Lebaran 2026!
Dalam praktiknya, sekolah inklusif sering kali hanya menyediakan ruang tanpa diikuti kesiapan metode dan sumber daya. Anak-anak berkebutuhan khusus duduk dalam kelas yang sama dengan siswa reguler, namun tidak selalu mendapatkan pendekatan yang sesuai.
Pengalaman itu kembali dia temukan saat melanjutkan peran sebagai guru pendamping di SMP Negeri 2 Mertoyodan. Pada jenjang yang lebih tinggi, persoalan itu tidak hilang. Anak-anak tetap berada dalam sistem, tetapi tidak sepenuhnya terlayani.
Sri Murdani kemudian menarik satu kesimpulan: ada kebutuhan yang tidak bisa sepenuhnya dipenuhi oleh sistem pendidikan formal.
Kesimpulan itu mendorongnya mengambil langkah yang tidak sederhana—mendirikan sekolah sendiri.
Sekolah Alternatif
Pada 2016, TK Mutiara Hati mulai dirintis. Sri Murdani memilih jenjang pendidikan anak usia dini dengan pertimbangan bahwa intervensi paling efektif dilakukan sejak awal perkembangan anak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Polda Jateng Autopsi Jenazah AFF, Pelajar SMP di Pemalang yang Tewas Diduga Korban Perundungan
-
Potensi Kendaraan Listrik di Jawa Tengah Terus Menguat, Semarang Jadi Pasar Strategis
-
Digagalkan! 300 Butir Obat Terlarang dan Sabu Nyaris Masuk Lapas Kelas I Semarang
-
Ramai Dugaan Perundungan, Polisi Cari Fakta di Balik Meninggalnya Pelajar SMP Pemalang
-
Enam Korban Keracunan MBG Semarang Masih Dirawat, Dinkes Tunggu Hasil Uji Laboratorium