- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan program pelatihan bagi guru sekolah reguler untuk mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus.
- Implementasi pendidikan inklusif di sekolah reguler masih terkendala kurangnya guru profesional, fasilitas pendukung, serta risiko perundungan terhadap siswa.
- Sri Murdani mendirikan TK Mutiara Hati di Magelang guna menyediakan pendidikan khusus bagi anak disabilitas dari keluarga kurang mampu.
SuaraJawaTengah.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan Program Pelatihan Pendidikan Inklusi. Membekali para guru mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler.
Program ini sebagai lanjutan dari Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi No 48 tahun 2023 yang mewajibkan sekolah menerima peserta didik berkebutuhan khusus.
Amanat pendidikan inklusi juga diatur dalam UU No 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, dan UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mengakui, pemerataan sekolah inklusif saat ini masih terkendala ketersediaan tenaga pendidik yang berdedikasi dan terlatih.
“Selama ini, salah satu tantangan yang kita hadapi adalah kekurangan guru profesional yang berdedikasi dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus,” kata Abdul Mu’ti di Jakarta, 20 April lalu.
Hampir 3 tahun setelah Peraturan Menteri ditetapkan, kebijakan ini belum maksimal menyentuh anak-anak berkebutuhan khusus.
UNICEF melaporkan anak-anak penyandang disabilitas memiliki peluang lebih kecil mendapat layanan sekolah. Meski jumlah sekolah inklusif meningkat 29 persen—tahun 2020 hingga 2021—anak dengan disabilitas berpeluang lebih rendah menyelesaikan pendidikan dibandingkan teman sebayanya.
Data Kemendikbudristek tahun 2025 menunjukkan, hanya 12,26 persen anak berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan formal. Anak-anak disabilitas justru banyak ditampung oleh institusi pendidikan luar sekolah.
Sebanyak 6,9 ribu anak dengan disabilitas terlayani oleh pendidikan berbasis masyarakat. Lembaga-lembaga ini melibatkan anggota masyarakat untuk mengakomodasi pendidikan inklusif.
Baca Juga: Peta Jalur Rawan Longsor di Magelang: Waspada Saat Mudik Lebaran 2026!
Meski jumlah sekolah inklusi terus berambah—sebanyak 44.477 sekolah reguler menjadi penyelenggara pendidikan inklusif—tantangan penyediaan fasilitas dan tenaga pendidik yang kompeten masih menjadi kendala utama.
Rentan Bully
Pada praktiknya, di sekolah reguler anak-anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan siswa lainnya. Jarang sekali sekolah menugaskan guru khusus untuk mengajar mereka.
Belum lagi minimnya pemahaman masyarakat soal kondisi klinis anak berkebutuhan khusus, menyebabkan mereka justru rentan menjadi korban bully di sekolah.
Mereka membutuhkan layanan pendidikan yang unik—khusus dibanding siswa lainnya. Metode belajar peserta didik berkebutuhan khusus juga berbeda dengan anak-anak lainnya.
“Untuk disabilitas—pendidikan khusus—menurut saya bukan diskriminasi. Karena mereka punya kemampuan atau kebutuhan yang khusus. Pribadi atau individu yang unik. Pendidikan mereka harus disesuaikan dengan kebutuhan,” kata Kepala TK Mutiara Hati, Sri Murdani.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Hoaks atau Fakta? Polisi Klarifikasi Isu Pagar Tinggi di Mal-Mal Solo
-
Polda Jateng Autopsi Jenazah AFF, Pelajar SMP di Pemalang yang Tewas Diduga Korban Perundungan
-
Potensi Kendaraan Listrik di Jawa Tengah Terus Menguat, Semarang Jadi Pasar Strategis
-
Digagalkan! 300 Butir Obat Terlarang dan Sabu Nyaris Masuk Lapas Kelas I Semarang
-
Ramai Dugaan Perundungan, Polisi Cari Fakta di Balik Meninggalnya Pelajar SMP Pemalang