- Densus 88 Antiteror mengungkap kelompok radikal merekrut pelajar di Jawa Tengah melalui interaksi komunikasi dalam platform game online.
- Sepanjang tahun 2025 hingga 2026, tercatat setidaknya 22 anak di Jawa Tengah terpapar konten kekerasan di ruang digital.
- Para ahli menekankan pentingnya penguatan literasi digital bagi generasi muda untuk menangkal ancaman radikalisme yang menyusup secara bertahap.
SuaraJawaTengah.id - Ancaman radikalisme di kalangan pelajar kini tidak lagi hadir dalam bentuk propaganda terbuka. Densus 88 Antiteror mengungkap kelompok radikal mulai memanfaatkan game online sebagai pintu masuk untuk merekrut dan memengaruhi anak-anak melalui interaksi yang tampak biasa di ruang digital.
Katim Semarang Raya Satgaswil Jateng Densus 88 Antiteror, Iptu Yusuf, mengatakan pola yang ditemukan diawali dari komunikasi antarpemain dalam game online. Setelah terjalin kedekatan, komunikasi kemudian diarahkan ke percakapan pribadi dan platform yang lebih tertutup sebelum disusupi narasi kekerasan dan ekstremisme.
"Di Jawa Tengah kami menemukan pola seperti itu. "Anak-anak adalah kelompok rentan, seringkali belum memahami dampak informasi yang diterima, mereka rawan dipengaruhi pihak-pihak tertentu," ujarnya dalam kegiatan Bacaaja Goes to School: Cegah IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme) Kalangan Gen-Z di Ruang Digital di Kampus Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang.
Data Densus 88 menunjukkan sedikitnya 22 anak di Jawa Tengah teridentifikasi terpapar konten kekerasan dari ruang digital sepanjang 2025. Jumlah tersebut disebut bertambah pada 2026.
Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama SCU Semarang, Dr. dr. Gregorius Yoga Panji Asmara SH MH, mengingatkan bahwa ancaman radikalisme saat ini justru sering bersembunyi di balik aktivitas yang terlihat normal dan tidak mencurigakan.
"Sesuatu yang terlihat biasa saja perlu diwaspadai. Hukum memang mengatur, tetapi ada pihak-pihak yang tidak peduli terhadap hukum sehingga akan melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya," kata Yoga.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat penguatan daya kritis generasi muda menjadi sangat penting. Sebab, kelompok radikal kini tidak lagi mengandalkan pertemuan langsung, melainkan memanfaatkan ruang digital yang akrab dengan kehidupan sehari-hari pelajar.
Psikolog SCU, Christa Vidia Rana Abimanyu, menambahkan bahwa proses radikalisasi berlangsung secara bertahap, mulai dari intoleransi, berkembang menjadi radikalisme, ekstremisme, hingga berpotensi berujung pada aksi terorisme.
"Secara psikologis, orang terpapar tidak terjadi semalam, tetapi ada prosesnya, dari intoleran, radikalisme, ekstremisme hingga terorisme," ungkap Abi.
Baca Juga: Sokong MBG, Taj Yasin Minta SPPG Belanja Telur dari Peternak Lokal
Karena itu, ia menilai literasi digital dan kemampuan menyaring informasi harus menjadi benteng utama bagi generasi Z agar tidak mudah terjebak dalam pengaruh kelompok yang memanfaatkan game online maupun platform digital sebagai sarana penyebaran ideologi kekerasan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- 3 Fakta Gila Usai Persib Bandung Kalahkan FC Seoul: Tumbangkan Ranking 26 Asia
Pilihan
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
Terkini
-
BRI Kian Aktif Dorong Program 3 Juta Rumah Lewat Penguatan Ekosistem Perumahan
-
Candi Gedong Songo Jadi Sorotan, Titik Bor PLTP Gunung Ungaran Belum Ditentukan
-
Kasus Jasad Bayi di Bandungan Jadi Alarm Keras, Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Pergaulan Remaja
-
Jangan Gampang Kepincut! Pesan Penting Ning Nawal untuk Ibu-Ibu Hadapi Jebakan Pinjol dan Judol
-
KAI Hentikan Pembongkaran Eks Stasiun Banjarnegara, Janji Kembalikan Pintu seperti Semula