- BMKG menyatakan wilayah Jawa Tengah telah memasuki musim kemarau yang ditandai dengan fenomena udara dingin di malam hari.
- Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan berpotensi memicu suhu lebih rendah serta munculnya kabut radiasi.
- Pemerintah daerah diminta waspada terhadap risiko kekeringan dan kebakaran lahan selama masa puncak musim kemarau tahun ini berlangsung.
SuaraJawaTengah.id - Warga Jawa Tengah mulai merasakan perubahan cuaca yang cukup mencolok. Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibanding biasanya.
BMKG menyebut fenomena ini merupakan salah satu tanda musim kemarau mulai menguat dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Agustus 2026.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan sejumlah wilayah Jawa Tengah sudah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut ditandai dengan udara dingin saat malam dan pagi hari, sementara siang hari terasa lebih terik karena berkurangnya tutupan awan.
"Beberapa cirinya sudah tampak. Suhu udara pada malam dan pagi hari lebih dingin dibanding biasanya, sedangkan pada siang hari sinar matahari terasa lebih menyengat," ujarnya.
Menurut BMKG, fenomena yang dikenal masyarakat sebagai bediding ini berpotensi semakin terasa dalam beberapa pekan ke depan, terutama di wilayah dataran tinggi seperti Banyumas, Cilacap bagian barat, Wonosobo, Banjarnegara, dan kawasan pegunungan lainnya.
BMKG mencatat suhu minimum di Cilacap saat ini masih berada dalam kategori normal. Namun menjelang puncak kemarau, suhu berpotensi turun lebih rendah seperti yang pernah terjadi pada Agustus 1994 ketika suhu mencapai 17,4 derajat Celsius.
Selain udara dingin, masyarakat juga berpotensi menjumpai kabut pada pagi hari akibat fenomena kabut radiasi. Kondisi ini terjadi karena panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari cepat dilepaskan saat malam, sehingga suhu turun dan membentuk kabut.
BMKG mengimbau masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki riwayat alergi dingin atau gangguan pernapasan, untuk menjaga kondisi tubuh dengan mengenakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam dan pagi hari.
Di balik udara sejuk yang dirasakan warga, BMKG juga mengingatkan ancaman lain yang mulai mengintai, yakni kekeringan dan kebakaran lahan. Meski musim kemarau tahun ini diprakirakan berada di bawah normal, pemerintah daerah diminta tetap menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi krisis air bersih dan meningkatnya risiko kebakaran vegetasi.
Baca Juga: BYD Kian Agresif di Jawa Tengah, Kejar Pertumbuhan Pasar Kendaraan Ramah Lingkungan
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- 3 Fakta Gila Usai Persib Bandung Kalahkan FC Seoul: Tumbangkan Ranking 26 Asia
Pilihan
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
Terkini
-
Warga Jateng Wajib Tahu! Pemprov Bebaskan Denda Pajak dan Pajak Progresif, Ini Jadwalnya
-
Dana Investor Miliaran Dipersoalkan, Proyek Perumahan Syariah Berujung Laporan Terhadap Oknum Dosen
-
BRI Kian Aktif Dorong Program 3 Juta Rumah Lewat Penguatan Ekosistem Perumahan
-
Candi Gedong Songo Jadi Sorotan, Titik Bor PLTP Gunung Ungaran Belum Ditentukan
-
Kasus Jasad Bayi di Bandungan Jadi Alarm Keras, Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Pergaulan Remaja